Pemetaan COVID-19, Kota Bandung Siapkan Laboratorium BSL-2 di RSKIA

- 15 April 2020, 07:04 WIB
KENDARAAN melintas di depan gedung Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) di jalan KH. Wahid Hasyim Kota Bandung, beberapa waktu lalu.*
KENDARAAN melintas di depan gedung Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) di jalan KH. Wahid Hasyim Kota Bandung, beberapa waktu lalu.* /ADE MAMAD/PR

PIKIRAN RAKYAT - Pemerintah Kota Bandung menyiapkan laboratorium Biosafety Level 2 (BSL-2), berdasarkan rencana bakal ada di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA). Hal itu merupakan bagian upaya Pemkot Bandung mempercepat pelacakan beserta pemetaan COVID-19 secara lebih akurat.

Wali Kota Bandung Oded M Danial beserta jajarannya meninjau ke RSKIA, Jalan KH Wahid Hasyim (Kopo), Selasa 14 April 2020. Oded menyebutkan, peninjauan merupakan upaya mencari lokasi untuk laboratorium BSL-2.

"Kami bekerja sama dengan ITB, hendak mendirikan laboratorium BSL-2. Pengadaan keperluan laboratorium dari anggaran Pemkot Bandung, ITB sebagai konsultan," tutur Oded seusai meninjau RSKIA, Selasa, 14 April 2020.

Baca Juga: Meski Jeblok Sampai 95%, Sebagian Angkutan Travel Bandung-Jakarta Tetap Beroperasi

Pencegahan penyebaran COVID-19, membutuhkan pendeteksian beserta pemetaan akurat secara menyeluruh. Pihaknya bisa mengadakan banyak tes COVID-19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) saat laboratorium BSL-2 telah siap.

Tes COVID-19 dengan metode PCR dilaksanakan di Labkesda Jawa Barat, Jalan Sederhana, Kota Bandung. Oded mengatakan, perlu ada tambahan fasilitas yang dapat mengadakan tes COVID-19 dengan metode PCR. "Perlu banyak. Terjadi antrean (peserta tes) karena baru ada satu. Hal yang juga penting, pemeriksaan bisa lebih masif, " ucap Oded.

Baca Juga: Jembatan Cibuni Sukabumi Rusak Parah, Perekonomian Warga Terancam Lumpuh

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Rita Verita mengatakan, PCR merupakan metode tes untuk mengonfirmasi seseorang positif COVID-19. Dinkes Kota Bandung terus menelusuri orang dalam pemantauan (ODP). Penelurusan tersebar berdasarkan wilayah Puskesmas. "Kami menelusuri ODP semua kluster," ucap Rita.

Rita menyampaikan penjelasan, setelah dinyatakan positif melalui tes cepat (rapid test), tiap-tiap ODP ditindaklanjuti dengan pengambilan sampel uap (swab) untuk tes metode PCR. Ketersediaan alat cepat belum mencukupi, mengingat jumlah penggunaannya yang kontinue.

"Sekitar 3.300 alat tes cepat sudah digunakan, masih kurang. Saat alat habis, kami bisa kembali mengajukan kepada kepada Pemprov Jawa Barat. Kami sudah menyampaikan hal itu ke pemprov," ucap dia.***

Editor: Syamsul Bachri


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X