Antisipasi Demam Berdarah Dengue (DBD), Dinas Kesehatan Jawa Barat Dorong Gerakan Jumantik

- 12 Maret 2020, 19:00 WIB
 Ilustrasi Nyamuk DBD.*
Ilustrasi Nyamuk DBD.* /PIXABAY

PIKIRAN RAKYAT - Menanggulangi kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jawa Barat, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat mengaku sudah mengambil sejumlah langkah. Salah satunya, yakni dengan mendorong gerakan satu rumah satu pemantau jentik (jumantik).

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Berli Hamdani mengatakan, pihaknya bersama dinas kesehatan kabupaten/kota di Jawa Barat melakukan pemantauan jentik nyamuk secara berkala. Selain itu, pihaknya pun menyediakan pembagian abate di semua kabupaten/kota.

“Penanggulangan DBD ini kami mendorong gerakan jumantik. Kemudian, persediaan abate di semua kabupaten/kota cukup untuk dibagikan ke masyarakat. Tapi, memang perlu koordinator di setiap RT untuk menyalurkan abate," kata Berli di Kota Bandung, Kamis 12 Maret 2020.

Baca Juga: Pembekuan Perdagangan Saham Setengah Jam Lebih Awal agar Harga Tidak Jatuh Terlalu Dalam

Abate merupakan obat tabur yang difungsikan sebagai pembasmi telur dan jentik nyamuk, terutama nyamuk Aedes Aegypti, yang biasanya berada di genangan air terbuka.

Sejak Januari sampai awal Maret 2020, kata Berli, jumlah kasus kematian akibat DBD di Jabar mencapai 15 kasus. Sedangkan, di tahun 2019, terjadi 49 kasus kematian akibat DBD. Target pelayanan DBD Dinkes se-Jabar ke depan adalah menghilangkan kematian akibat DBD ini. Guna menanggulangi hal tersebut, Dinkes Jabar memastikan persediaan stok obat-obatan, termasuk infus, di semua fasilitas kesehatan.

Baca Juga: Cegah Virus Corona, Jokowi: Perlu Penyesuaian Diri dengan Kebiasaan Baru

“Semua obat-obatan tersedia dan lengkap, termasuk infus. Infus ini dapat menangani penderita DBD yang mengalami shock,” ucap Berli. 

Berli pun memastikan, semua fasilitas kesehatan di Jabar sudah memahami betul protokol dalam melakukan penanganan terhadap penderita DBD. "Tetapi yang sering terjadi adalah keterlambatan mengantar anggota keluarga yang sakit ke fasilitas kesehatan terdekat. Dari 15 kasus kematian itu rata-rata karena keterlambatan," katanya. 

Baca Juga: Cek Fakta: Penyebaran Virus Corona Telah Sampai di Bogor, 20 Kasus Covid-19 Tersebar di Sejumlah Kelurahan

Halaman:

Editor: Syamsul Bachri


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X