Kamis, 20 Februari 2020

Kompensasi Minyak Tumpah di Perairan Karawang Masih Menggantung, Nelayan Titip Aspirasi ke Senayan

- 29 Januari 2020, 08:17 WIB
TUMPAHAN minyak mentah mengotori lingkungan di permukiman warga Desa Cemara Jaya, Karawang.*/DODO RIHANTO/PR /

PIKIRAN RAKYAT -  Tumpahnya minyak Pertamina di Perairan Karawang yang terjadi sejak Juli 2019 lalu ternyata masih belum terselesaikan secara utuh.

Pasalnya, meski tak sebanyak dulu, di pinggiran Perairan Karawang masih sering ditemukan minyak tergenang.

Kompensasi untuk masyarakat pun disinyalir masih terhambat karena berbagai alasan. Menindaklanjuti ketidakpastian ini sejumlah perwakilan nelayan Karawang mendatangi Kompleks Parlemen Senayan, Selasa, 28 Januari 2020, untuk meminta bantuan.

Baca Juga: Rumah dan Masjid Tertimpa Benteng Kantor BPJS Ketenagakerjaan

Diterima oleh Anggota DPR Komisi IV Fraksi PDI Perjuangan, Ono Surono, Nur Hakim perwakilan nelayan dari Desa Sungai Buntu menyebut kalau selama ini nelayan seolah dininabobokan dengan janji kompensasi.

Semula mereka dijanjikan pembayaran akan selesai pada September 2019. Namun hingga kini ganti rugi bagi nelayan yang terdampak belum juga tuntas.

Padahal selama perairan belum bersih, nelayan tak bisa melaut paling tidak lima bulan lamanya.

Baca Juga: Diproyeksi Untuk Lengkapi Kuota Pemain Asing, Persib Datangkan Pemain Asal Belanda

"Terkait dengan itu pernah berapa kali Pertamaina menjanjikan bulan September, November, kemudian Desember, dan sampai saat ini belum juga terealisasi," kata Hakim.

Diakui Hakim, pendataan sejak awal memang sudah dilakukan. Sebagian dari warga terdampak yang terdiri dari nelayan, petambak, dan pedagang di pesisir pantai pun sudah menerima kompensasi tersebut.

Namun besaran kompensasi yang diterima ternyata tak sesuai dengan kerugian mereka.

Baca Juga: Palestina Tolak Usul Trump soal Perjanjian Timur Tengah yang Janjikan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel

Menurutnya, satu warga terdampak hanya mendapat Rp 1.800.000 yang merupakan kompensasi untuk dua bulan kerugian yang mereka terima imbas dari bocornya minya Pertamina.

"Berarti kerugian sebulan hanya dihitung Rp 900.000, padahal rata-rata nelayan itu bisa pulang dengan membawa Rp 150.000 per hari. Mestinya itu dikalikan dengan 30 hari dan dikalikan lagi dengan lima bulan karena sejak Juli sampai November (2019) kami kan tak bisa melaut. Belum lagi di lapangan masih banyak juga yang sudah terdaftar tapi tak kunjung dicairkan dan sebagian lagi yang masih mengurus daftar susulan," ucap dia.

Berdasarkan data yang dia ketahui dari Dinas Perikanan Kabupaten Karawang, di Desa Sungai Buntu saja sudah ada 1200 orang yang terdaftar. Dari jumlah itu baru terealisasi 400-an nelayan.

Halaman:

Editor: Gita Pratiwi

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X