Tatang, Tunanetra yang Ubah Kandang Ayam Jadi SLB di Bandung

- 10 November 2019, 19:59 WIB
TATANG (50) pendiri SLB ABCD di Gang Faqih, Jalan Holis, RT 2, RW 9, Kelurahan Babakan, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, Jumat 8 November 2019. Tatang yang tunanetra mendirikan SLB ABCD di rumahnya pada 2003 dan hingga saat ini masih berstatus guru honorer.*/ENDAH ASIH LESTARI/PR

PRIA tunanetra berusia 50 tahun, Tatang, baru saja selesai mengajar empat anak tunanetra di Sekolah Luar Biasa (SLB) ABCD, Jumat 8 November 2019 pagi. Tak hanya menjadi guru, Tatang juga merupakan pendiri SLB yang berlokasi di Jalan Holis, Gang Faqih, RT 2, RW 9, Kelurahan Babakan, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung itu.

Kisahnya mendirikan SLB ABCD berawal pada 2003. Tatang yang saat itu baru lulus Program Studi Antropologi FISIP Unpad punya keinginan "menyulap" kediaman keluarganya menjadi SLB.

Dia merasakan, kehidupan sebagai difabel akan semakin berat jika tidak dibarengi ilmu pengetahuan. Batinnya terusik ketika menyadari hampir seluruh anak difabel di daerah tempat tinggalnya tidak bisa mengenyam pendidikan.

"Waktu itu, saya bersama almarhum kakak saya yang juga tunanetra, lalu istrinya, juga sahabat, sepakat mendirikan SLB. Kami merasa sangat prihatin dengan kondisi penyandang disabilitas di sekitar kami yang hampir semuanya tidak bersekolah karena berasal dari keluarga tidak mampu. Kami bisa berempati karena difabel juga," ucap Tatang di SLB ABCD, Jumat 8 November 2019.

Dianggap pengemis

Dengan keterbatasan yang ada, Tatang menggunakan bangunan rumah seluas 7 x 8 meter milik keluarganya di dalam gang untuk menjadi SLB seadanya. Dulunya, lahan dan bangunan itu merupakan kandang ayam.

Target saat itu adalah memberikan pengajaran kepada anak-anak difabel sehingga bisa meningkatkan kualitas hidupnya.

"Kami bergerak sendiri mendatangi orangtua yang punya anak penyandang disabilitas di sekitar wilayah kami dan rupanya tidak mudah. Ketika diberikan nasihat, banyak orangtua yang tidak merespons. Bahkan, saya pernah diusir dan diberi uang Rp 100.000 karena dianggap pengemis. Banyak dari mereka yang berpikir, untuk apa sekolah toh banyak juga orang normal yang pada akhirnya jadi pengangguran," tutur Tatang.

Melalui berbagai ikhtiar, mereka mampu menyadarkan lima orangtua dengan anak difabel. Mereka menjadi siswa angkatan pertama SLB ABCD. Seiring waktu, banyak orangtua yang sadar pentingnya pendidikan untuk anak-anak penyandang disabilitas.

Halaman:

Editor: Gita Pratiwi


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

Media Pakuan

Walikota

23 September 2020, 17:20 WIB
X