Minggu, 15 Desember 2019

Kerap Memicu Banjir, Sampah Jadi Objek Simulasi Sekolah Sungai Cimahi

- 2 November 2019, 15:17 WIB
ALIRAN sungai melintasi perumahan di Kel. Cigugur Tengah Kec. Cimahi Tengah Kota Cimahi, Rabu 16 Oktober 2019.*/HARRY SUJANA/PR

CIMAHI, (PR).- Problematika sampah menjadi objek pembahasan dalam Simulasi Sekolah Sungai Cimahi (SSC) di kampus Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Jalan Terusan Sudirman Kota Cimahi, Jumat 1 November 2019. Akibat sampah yang menyumbat saluran air berpotensi memicu banjir hingga menggenangi permukiman maupun badan jalan di Kota Cimahi.

Simulasi SSC digelar di gedung Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Unjani. Peserta sekolah terdiri dari masyarakat perwakilan Kel. Cigugur Tengah dan Kel. Melong, jajaran staf Kelurahan, dinas terkait Pemkot Cimahi, serta akademisi dari Unjani dan Politeknik Negeri Bandung.

Ariani Budi Safarina selaku penggagas kegiatan tersebut mengatakan, simulasi SSC merupakan uji coba dari kurikulum pembelajaran sungai di Kota Cimahi yang sudah disusun. "Kondisi sungai di Kota Cimahi menyimpan potensi bencana alam banjir. Banyak penyebab atau pemicu banjir, tapi yang paling kasat mata yaitu keberadaan sampah di badan sungai sehingga hal itu coba kita sampaikan ke masyarakat," ujarnya.

Pemilihan wilayah Kel. Cigugur Tengah dan Kel. Melong terutama sebagai daerah langganan banjir. "Banyak penyebab banjir di Melong dengan aliran Sungai Cibeureum dan Cigugur Tengah dengan aliran Sungai Cilember.

"Hasil kajian, tingkat kerusakan banjir Sungai Cilember bisa lebih besar dibanding banjir di Rancaekek. Yang mudah kelihatan, ya setelah banjir berlalu sampah berserakan," ujarnya.

Di sisi lain, narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung mengklaim pengelolaan sampah mencapai 95% berdasarkan kajian konsultan. "Peserta perwakilan masyarakat membantah, karena pengakuan mereka keberadaan TPS cukup terbatas jadinya banyak warga bingung kemana menyalurkan sampah. Sehingga, yang terlihat ya sampah berakhir di saluran air baik drainase perkotaan maupun badan sungai," katanya.

Karena itu, para pengambil kebijakan perlu berkumpul bersama masyarakat dengan mediasi dari perguruan tinggi. Apalagi, pemerintah sebaiknya menggunakan riset perguruan tinggi karena menggunakan metodologi penelitian, review, serta kontrol ulang.

Terdapat beberapa poin yang disusun dalam kertas kerja bersama. "Banyak hal tidak tersambung antara program pemerintah dan layanan yang diterima masyarakat, istilah Pak Presiden RI Jokowi, hanya sebatas 'sent' tapi tidak 'delivered'. Kita menggali hal seperti itu, ke depan bisa diskusi bersama untuk mencari solusi," tuturnya.

Pihaknya berencana mengajukan SSC ke Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Penyelenggaraan SSC akan berlangsung di 3 tahun ke depan.


Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

X