Rabu, 11 Desember 2019

Warga Sering Salah Artikan Beberadaan Pembangkit Listrik Panas Bumi

- 29 Oktober 2019, 19:23 WIB
PESERTA yang berasal dari aparat pemerintah dan masyarakat Kecamatan Pangalengan saat mengikuti sosialisasi kepanasbumian di Hotel Grand Sunshine, Selasa, 29 Oktober 2019. Sosialisasi ini ditujukan agar tak ada lagi salah faham soal Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP).*/SARNAPI/PR

SOREANG, (PR).- Kabupaten Bandung memiliki potensi energi panas bumi yang sangat besar, namun baru dimanfaatkan di lima area yakni Area Kamojang, Darajat, Wayang Windu, Patuha, dan Cibuni. Hanya, masyarakat kurang tahu soal pembangkit listrik panas bumi (PLTP) ini sehingga kerap memandang PLTP merugikannya.

"Sering masyarakat salah arti soal keberadaan PLTP seperti menilai sering ada gempa setelah adanya PLTP," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bandung, Popi Hopipah, saat sosialisasi kepanasbumian di Hotel Grand Sunshine, Selasa, 29 Oktober 2019.

Lebih jauh, Popi menyatakan, saat ini potensi panas bumi yang sudah dimanfaatkan sebanyak 1.000 MW dan 787 MW sudah dimanfaatkan untuk listrik. "Hasil dari PLTP disalurkan kepada listrik jaringan Jawa dan Bali sehingga manfaatnya untuk kepentingan nasional," ujarnya didampingi Sekretaris Camat Pangalengan, Dadang Sumpena.

Popi menambahkan, akibat salah paham ini sehingga masyarakat sering mengganggu operasional PLTP ini. "Misalnya ada gangguan terhadap pipa besar yang biasanya dibangun dekat lahan masyarakat. Untuk itu, kami mohon agar PLTP selalu melakukan sosialisasi dan PLTP memberikan dana CSR nya buat warga," katanya.

Keberadaan PLTP, kata Popi, sudah terasakan warga masyarakat Kabupaten Bandung karena ada dana bagi hasil (DBH) dari keuntungan PLTP.

"Khususnya untuk sembilan kecamatan sekitar PLTP yang terdampak keberadaan PLTP. Harus ada saling bantu antara pemerintah, PLTP maupun warga masyarakat agar Kabupaten Bandung semakin maju," ucapnya.

DBH dari PLTP juga bisa untuk pengembangan industri kecil bahkan harga jual produknya lebih mahal.

"Harga jual kopi maupun gula semut yang diproses dengan listrik dari PLTP ternyata harga jualnya lebih mahal. Sebab PLTP merupakan energi yang ramah lingkungan," katanya.***



Editor: Endah Asih

Tags

Komentar

Terkini

X