Penghayat Kepercayaan Masih Terganjal Stigma, Pengakuan Harus Dibarengi Upaya Membumikan

- 23 Oktober 2019, 12:57 WIB
PENGHAYAT kepercayaan dan agama lokal menunjukkan KTP milknya  di Kota Bandung, Rabu 20 Februari 2019.*/ARIF HIDAYAH/PR
PENGHAYAT kepercayaan dan agama lokal menunjukkan KTP milknya di Kota Bandung, Rabu 20 Februari 2019.*/ARIF HIDAYAH/PR

BANDUNG, (PR).- Beberapa peraturan nasional yang telah membuka pengakuan dan ruang berekspresi bagi penghayat kepercayaan harus dibarengi upaya membumikannya. Pada tataran pejabat lokal dan masyarakat sekitar, dibutuhkan sosialiasi dan dialog terus-menerus.

Pada 2017, pemerintah mengakui pencantuman penghayat kepercayaan di kolom KTP (Kartu Tanda Penduduk). Keputusan itu memperluas akses kaum penghayat untuk memenuhi hak mereka terkait administrasi kependudukan.

Dalam bidang pendidikan, pada tahun yang sama, pemerintah mulai menghadirkan peran penyuluh bagi para siswa penghayat.

Ketua Budi Daya Engkus Ruswana menyatakan, beberapa kebijakan pemerintah pusat yang menyokong keberadaan penghayat kepercayaan merupakan langkah awal. Dibutuhkan kerja lebih besar lagi agar semangat kesetaraan itu sampai ke level terbawah.

“Tentang pencantuman penghayat di KTP, misalnya, masih banyak pejabat daerah yang belum paham prosedurnya. Atau bahkan masih takut melakukannya. Hal ini yang harus segera diubah,” tutur Engkus pada Sarasehan Nasional Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Bandung, Selasa 22 Oktober 2019.

Menurut Engkus, harus ada sosialisasi dan dialog yang terus menerus tentang keberadaan dan peran penghayat di lingkungan terkecil. Penting bagi kelompok penghayat mendapatkan jaminan keamanan dan kenyamanan dalam melakukan kegiatan sehari-hari mereka.

Ketua Puan Hayati Jawa Barat Rela Susanti menyatakan, penghayat masih terganjal stigma yang ada di tengah masyarakat. Dia juga berharap agar dialog dilakukan terus-menerus sehingga nantinya para penghayat tidak perlu lagi menutup-nutupi identitas mereka di hadapan publik.

“Dialog ini akan membuat kita bersama-sama memahami keberagaman yang memang ada di tengah masyarakat. Kami bersyukur untuk kemajuan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, tapi perjuangan menuju pengakuan dan kesetaraan masih jauh,” ucapnya.

Ketua Umum Puan Hayati Pusat Dian Jennie menyatakan, diskriminasi dan peminggiran yagn dialami kaum penghayat selama berpuluh-puluh tahun masih menyisakan luka yang dalam.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network