Minggu, 5 April 2020

Industri Tekstil Akan Hancur Jika Pencemaran Citarum Tak Ditangani Baik

- 3 Oktober 2019, 21:36 WIB
PEMIMPIN Redaksi HU Pikiran Rakyat Noe Firman saat memberikan pemaparan terkait Sungai Citarum dalam acara Genetitas 2019 bertema

SUMEDANG, (PR).- Industri tekstil di Indonesia dipastikan hancur jika pencemaran Citarum tidak ditangani dengan baik. Hal ini dikarenakan pemberitaan media asing yang sangat memperhatikan permasalahan lingkungan. Sedangkan di Indonesia pemberitaan masalah lingkungan masih belum menjadi prioritas.

"Berkaca dari industri sawit Nusantara yang juga terancam nasibnya akibat kebakaran hutan lahan. Seperti diketahui jika karhutla ini masih belum tertangani dengan baik, maka dunia Internasional tak akan lagi membeli sawit dari Indonesia pada tahun 2024 mendatang," kata Dosen Fakultas Komunikasi Unpad Dr Herlina Agustin S.Sos M.T di Auditorium Fikom Unpad, pada Acara Genetitas 2019 bertema “Wajah Citarum dalam Bingkai Media”,  Kamis 3 Oktober 2019.

Menurut Herlina, karena pemberitaan dunia Internasional akan berdampak ke Industri tekstil itu sendiri. Apalagi bahan tekstil dari Indonesia dipakai oleh merek-merek terkenal kelas dunia yang dihargai tinggi.

"Berbeda dengan di luar negeri yang menggunakan sistem fashion secara musiman sehingga penggunaan pakaian itu per musim. Namun di nasional industri fashion ini menggunakan pakem fast fashion, sehingga penggunaan pakaian yang notabene bahannya dari pabrik-pabrik tekstil pencemar Citarum lebih banyak," ujarnya.

Dari data yang dihimpun Herlina, banyaknya pemberitaan pencemaran Citarum dari limbah tekstil ini dimulai dengan media asal Amerika Huffington Post. Ditambah dengan beberapa channel youtube dengan viewer ada yang mencapai 2 juta lebih. "Dunia Internasional semakin tahu, tentang‎ kotornya Citarum," ucapnya.

Oleh karena itu, imbas pemberitaan media Internasional ini sangat mengancam pabrik-pabrik tekstil pencemar Citarum‎. "Tinggal tunggu waktu saja matinya pabrik-pabrik tekstil ini yang memiliki pegawai tu," ujarnya.

Terkesan lambat

Pemimpin Redaksi HU Pikiran Rakyat,  Firman Rachmat di tempat yang sama menambahkan Sungai Citarum ini adalah ‎sungai yang proyeknya multi million dollar. Namun proyek pembersihan ini terkesan lambat karena berbagai faktor.

"Selama ini kami di Pikiran Rakyat selalu memberikan porsi lebih dalam pemberitaan Citarum ini. Kami pun secara giat mendorong semua stake holder di lapangan untuk bersama-sama memulihkan Sungai Citarum," kata pria yang akrab disapa Noe.

Pemberitaan fakta di lapangan pun selalu menjadi hal yang diutamakan. Sehingga apabila keadaan di lapangan itu buruk, diberitakan secara buruk pula seadanya. Begitu pun jika fakta di lapangan positif, diberikan pemberitaan positif pula. "Kami pun berterima kasih kepada Satgas Citarum Harum yang menjadikan Citarum kini lebih baik dari sebelumnya," ucapnya.

Halaman:

Editor: ella yuniaperdani

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X