Karya Cutting-Edge Jadi Pemenang Bandung Contemporary Art Award 2019

- 28 September 2019, 22:27 WIB
MUHAMMAD FIKRY MAULUDY/PR
MUHAMMAD FIKRY MAULUDY/PR

BANDUNG, (PR).- Karya dari Vincent Rumahloine, Bandu Darmawan, dan Audya Amalia, terpilih sebagai pemenang anugerah karya seni rupa kontemporer, Bandung Contemporary Art Award (BaCAA). Penyerahan anugerah itu diselenggarakan, di Lawangwangi Creative Space, Kabupaten Bandung Barat, Jumat 27 September 2019 malam.

Karya Vincent Rumahloin yang diberi judul “Don't Call Me Hero: Soegeng Soejono”, menyajikan karya berupa arsip foto yang diperoleh dari Pak Sugeng Soejono, atau biasa dipanggil Bung Yono. Seniman muda yang karyanya banyak mengekplorasi fotografi seni ini memetik fragmen sejarah masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru.

Pada periode itu banyak pihak yang ditempatkan di dalam posisi yang tidak menguntungkan, termasuk Bung Yono yang menjadi tokoh sentral dalam karya Vincent di pameran BaCAA #6 ini. Melalui instalasi foto di atas meja dan dinding galeri, juga video, terlihat kisah Bung Yono dan kawan-kawannya yang hidup sebagai orang biasa di Praha, Republik Ceko, namun dijadikan eksil politik sejak masa Orde Baru hingga saat ini.

Niatan Bung Yono menjadi mahasiswa yang dikirim oleh pemerintah era Soekarno untuk menuntut ilmu di Praha, berujung pada pengasingan dari Indonesia, ketika mereka tidak bersetuju dengan rezim Orde Baru. Terdapat cuplikan rentang hidup Bung Yono selama 30 tahun dalam karya ini, dimulai pada waktu kedatangannya di Praha hingga kembali ke Indonesia untuk berkunjung.

Vincent bermaksud menunjukkan bagaimana penyalahgunaan kekuasaan dapat mengubah nasib orang dengan semena-mena. Ia mendedikasikan karya ini sebagai apresiasi terhadap Bung Yono, dan berharap karya ini menjadi titik tolak perbincangan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Indonesia pada tahun 1965-1967.

Pemenang kedua, Bandu Darmawan, terinspirasi dari sebuah film thriller berjudul Ouija. Pada karyanya, Bandu menyoroti persoalan manusia yang selalu berupaya menemukan cara berkomunikasi dari zaman ke zaman. Perkembangan internet mendorong manusia sekarang untuk mengeksplorasi hasratnya berkomunikasi, baik itu dengan cara acak melalui service random chat hingga pemanfaatan artificial intelligence dengan lawan bicaranya.

Apabila kita melihat lagi ke belakang, kecenderungan berkomunikasi dengan subjek atau orang asing sudah terjadi pada zaman dahulu. Laiknya praktik jelangkung oleh sebagian masyarakat Indonesia atau papan Ouija, manusia mencoba mencari subjek di luar dari orang-orang yang sudah dikenali dan dipahami untuk diajak berkomunikasi.

Pada karyanya yang berjudul “Tak Kenal Maka Tak Apa”, Bandu menyimulasikan fenomena ini melalui instalasi kinetik menggunakan papan Ouija di atas meja, dan sebuah proyeksi hitam putih seseorang yang sedang duduk seorang diri menggunakan proyeksi video.

Pemenang selanjutnya karya Audya Amalia, yang berjudul “His Mom Told Me To....”. Ia melakukan pendekatan dialogis dengan melibatkan partisipan beberapa laki-laki yang dipilih secara acak untuk diajak bicara melalui pertemuan dan pertukaran. Pendekatan itu sekaligus sebagai katalis untuk mengarahkan rasa keingintahuan seniman mengenai pandangan laki-laki terhadap sosok ibu dalam wilayah domestik (rumah).

Halaman:

Editor: Gugum Rachmat Gumilar


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network