Sabtu, 30 Mei 2020

Lakukan Pungli, Kepala Terminal Bekasi Terancam 15 Tahun Bui 

- 25 September 2019, 07:37 WIB
ILUSTRASI pungutan liar (pungli).*/DOK KABAR BANTEN

BANDUNG, (PR).- Kepala Terminal Induk Kota Bekasi Bambang Hendrianto terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara. Bambang didakwa melanggar pasal 12 dan 11 Undang-undang tindak  pidana korupsi karena kedapaten melakukan pungutan liar.

Demikian terungkap dalam sidang dugaan korupsi di Pengadilan Tipikor PN Bandung, Jalan RE Martadinata, Selasa, 24 September 2019. Sidang yang dipimpin ketua majelis Sudira mengagendakan pembacaan dakwaan oleh JPU Kejari Bekasi Siju.

Dalam dakwaannya, Siju menyatakan terdakwa sebagai ASN atau penyelenggara negara menyalahgunaan kekuasaannya memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar atau menerima pembayaraan dengan potongan bagi dirinya sendiri.

”Bahwa terdakwa meminta uang trayek 12 unit bus primajasa sebesar Rp 12 juta, dan jika tidak bus tersebut dilarang masuk terminal untuk menurunkan dan menaikkan penumpang,” katanya.

Perbuatan terdakwa dilakukan sekitar Mei 2019 saat dia menghubungi ketua pengurus bus Primajasa H. Mustakim alias Sarkim untuk menghadap ke ruangannya di lantai 2 terminal induk Kota Bekasi, dan meminta uang trayek 12 unit bus Primajasa jurusan Bekasi-Cirebon.

Selanjutnya, saksi Mustakim bersama Mulyadi Bodog selaku wakil pengurus bus primjasa menemui terdakwa. Saat pertemuan itu terdakwa langsung meminta uang advis atau trayek bus. Namun saksi menolak lantaran busnya sudah lengkap surat-suratnya.

”Namun terdakwa mengancam tidak akan mengizinkan bus masuk untuk parkir dan menurunkan serta menaikkan penumpang di dalam terminal,” ujarnya.

Negosiasi

Siju mengungkapkan, terhadap 12 unit bus jurusan Bekasi-Cirebon terdakwa meminta tarif Rp 1,5 juta per mobil sehingga totalnya Rp 18 juta. Namun, saksi keberatan dan meminta keringanan, yang akhirnya terdakwa sepakat per bus harganya Rp 1 juta.

Setelah berkomunikasi dengan pihak Primajasa, rupanya mereka tidak mau mengeluarkan uang di luar koordinasi resmi. Saksi Mustakim alias Sarkim pun terpaksa merogoh dari saku sendiri.

Halaman:

Editor: Endah Asih


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X