Jumat, 5 Juni 2020

Air Sungai Citarum Sudah Bisa Diminum, Panglima TNI Sudah Mencobanya

- 21 September 2019, 18:55 WIB
PANGLIMA TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto, menyapa warga di sela-sela rangkaian acara hari jadi TNI ke-74 di bantaran Sungai Citarum, Desa Sukamukti, Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung, Sabtu, 21 September 2019.*/HANDRI HANDRIANSYAH/PR

SOREANG, (PR).- Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI), Marsekal Hadi Tjahjanto, mengatakan, air Sungai Citarum yang sudah diolah, dibersihkan, dan dijernihkan sudah layak untuk digunakan untuk kebutuhan masyarakat. Kebutuhan itu utamanya sebagai air minum.

Hal itu dikatakannya setelah mencoba meminum air olahan tersebut di sela-sela peringatan hari jadi TNI ke-74 di bantaran Sungai Citarum, Desa Sukamukti, Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung, Sabtu, 21 September 2019. Menurutnya, air yang ia minum memiliki rasa yang sama dengan air matang di rumah-rumah.

"Rasanya seperti air yang biasa saya minum, artinya sudah layak minum setelah diolah," ujar Hadi.

Meskipun demikian, ia menyatakan harapannya supaya instalasi pengolahan air Sungai Citarum terus ditambah agar bisa dimanfaatkan oleh lebih banyak masyarakat. Saat ini, baru ada beberapa instalasi skala kecil di beberapa titik saja.

Di Sukamukti sendiri, kapasitas instalasi pengolahan air Sungai Citarum bisa menghasilkan sedikitnya 50.000 liter air bersih setiap hari. Namun, untuk air yang layak minum, produksinya baru sekitar 8.000 liter per hari.

Secara keseluruhan, Hadi pun mengapresiasi anggota TNI yang sudah membantu pemerintah dalam upaya memulihkan Sungai Citarum. Sebelumnya, sungai itu sempat dicap sebagai Sungai terkotor di dunia.

"Sekarang Citarum sudah memiliki potensi nilai jual untuk pariwisata. Kami akan terus memberi perhatian khusus sehingga dengan program pemerintah, kita bisa bantah bahwa Citarum kotor," ucapnya.

Optimisme untuk pemulihan Sungai Citarum

Para anggota TNI, kata Hadi, sudah secara ikhlas dan sukarela bertugas di sepanjang bantaran Sungai Citarum. Hasilnya, Sungai Citarum yang dulu airnya hitam dan dipenuhi plastik kini berangsur menjadi cokelat dengan sampah plastiknya hampir hilang.

Halaman:

Editor: Vebertina Manihuruk


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X