Eco Camp Bandung , Menyemai Benih Kesadaran Ekologis

- 20 September 2019, 13:54 WIB
SEJUMLAH warga membersihkan gulma sayuran di kebun Eco Camp yang bernaung di bawah Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup di Jalan Pakar Kulon, Kota Bandung, Rabu, 18 September 2019. Kegiatan tersebut merupakan salah satu misi yayasan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup lalui edukasi, reservasi, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat.*/ARIF HIDAYAH/PR

“BANYAK perspektif baru yang saya peroleh. Cara saya melihat air, tanah, udara berubah. Bahkan cara saya memahami makanan dan nafas saya sendiri berubah. Sekarang jadi lebih sadar saja”.

Begitu kata Mikhailla Karina (21) ketika ditemui di kompleks Eco Camp, Jalan Dago Pakar Barat, Bandung, Rabu, 18 September 2019 sore. Mikha merupakan mahasiswi Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang menjadi salah satu peserta Green Leader, program 10 hari pelatihan yang dimulai sejak awal September 2019 lalu.

Green Leader merupakan kegiatan tahunan di Eco Camp. Pesertanya adalah para guru, kepala sekolah, dan tokoh . Jangan bayangkan kurikulumnya penuh dengan teori lingkungan hidup. Kepada para peserta pelatihan, konsep pelestarian lingkungan secara berkelanjutan disajikan sebagai bagian dari hidup keseharian.

Mikha bercerita, dia dan para peserta lain dibuat syok di hari-hari pertama karena banyak sekali kegiatan yang tidak biasa. Kegiatan pagi, misalnya, diawali dengan meditasi selama sekitar 15 menit. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.

Green Leader juga mengajak para peserta untuk melambat. Tidak terburu-buru mengerjakan aktivitas keseharian. Cara mempraktikkan nilai ini dilakukan secara harafiah. Mereka dipaksa untuk betul-betul berjalan kaki secara sangat lambat.

loading...

“Ada juga kegiatan yang dinamai Membumi. Saya membayangkan diri saya sebagai benih pohon. Awalnya terlihat aneh, apalagi untuk anak muda seperti saya, tapi pada akhirnya saya bisa memetik pelajaran baiknya,” kata perempuan berkaca mata kelahiran Kabupaten Subang tersebut.

Beroperasi sejak 2014, Eco Camp dibangun di lahan seluas 7 hektare. Selain tempat menginap dan ruang-ruang beraktivitas, kompleks ini juga dilengkapi dengan kebun sayur, kandang hewan, serta rumah pengomposan. Berkebun secara organik merupakan salah satu aktivitas andalan di setiap pelatihan.

Beragam jenis sayur yang ditanam, mulai dari mentimun hingga pakcoy, tumbuh baik berkat pupuk kompos. Selain kotoran hewan kambing piaraan, para pengelola Eco Camp juga memanfaatkan sampah daun yang berserakan sekitar lokasi serta sampah Pasar Simpang Dago.

Halaman:

Editor: Endah Asih


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X