Senin, 24 Februari 2020

Menilik Pondok Pesantren yang Didirikan Gus Dur di Dago Bandung

- 8 September 2019, 18:31 WIB
SUASANA di Pesantren Miftahul Khoir di Jalan Tubagus Ismail VIII, Kota Bandung beberapa waktu lalu. Pesantren yang didirikan Gusdur ini masih bertahan dengan metode lama.*/MOCHAMMAD IQBAL MAULUD/PR

MENGUSUNG konsep Salafiyah Syafiiyah, pesantren yang berada di Puncak Dago ini melahirkan banyak pesantren baru. Bahkan menjadi role model bagi pesantren-pesantren baru di sekitarnya semisal Daarut Tauhid, Pesantren Salman Al Farisi, Baabus Salaam dan lainnya. Inilah Pondok Pesantren Miftahul Khoir yang salah satu pendirinya adalah Gus Dur.

"Kami berdiri sejak tahun 1985, salah satu pendirinya adalah KH Abdurrahman Wahid, KH Choer Affandi dari Miftahul Huda Tasikmalaya, termasuk kakek saya ‎KH Ahmad Umar," kata pengurus pesantren Miftahul Khoir, Ajengan Ahmad Husni Mubarak, di Jalan Tubagus Ismail VIII, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Minggu 8 September 2019.

Menurut Husni, pesantren Miftahul Khoir ini dikhususkan bagi para mahasiswa. Terutama yang ingin mempelajari Agama Islam secara kaffah dan sesuai dengan tuntutan Ahlus Sunnah Wal Jamaah dengan bermadzhabkan Syafi'i dan beraqidah Asyariyah.

"Mulanya pesantren ini hanya berisikan 40-50 orang, dan semuanya mahasiswa. Sementara sekarang jumlah totalnya mencapai 150 orang, namun kini tidak semuanya mahasiswa, ada juga yang ‎pelajar SMA dan warga sekitar," katanya.

Secara umum kata Husni metode pembelajaran dari pesantren ini masih menggunakan metode pesantren-pesantren lama. Tetapi tentunya dengan pendalaman-pendalaman dalam bidang tasawuf, adab, aqidah dan fiqih secara global.

"Namun kami juga kadang memberikan spesialisasi bagi para santri kami. Semisal ada yang baik dalam tahsin Alquran maka diperdalam pada bagian tahsin, yang pandai fiqih kami berikan pelajaran tambahan pada bidang tersebut," katanya.

Produsen penceramah

Husni pun menyatakan, KH Abdullah Gymnastiar pernah pesantren di Miftahul Khoir ini. Selain itu ada juga KH Muchtar Adam dan KH Jalaludin Syatibhi, KH Ahmad Rifa'i dan legenda penceramah berbahasa Sunda, Abdul Fatah Ghazali. "Kyai Ghazali itu selain ngaji juga mendirikan pesantren ini bersama Abah Anom. Sementara untuk yang zaman sekarang yang sudah berkunjung di antaranya Buya Yahya, Uu Ruzhanul Ulum dan lainnya," katanya.

Pesantren ini pun mempelajari kitab-kitab kuning klasik yang secara umum dipakai pesantren-pesantren lama. Semisal pelajaran safinah, jurumiyah, kailani, qurrotul uyyun dan lain-lainnya.

Halaman:

Editor: Gugum Rachmat Gumilar

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X