Jejak Pelacuran di Bandung, Cerita dari Masa Sebelum Indonesia Merdeka

- 7 Desember 2021, 12:17 WIB
Dalam pemberitaan koran berbahasa Belanda “Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsche-Indie pada 26 Oktober 1931, disebutkan adanya petisi terhadap Dewan Kota Bandung tentang perlunya ordonansi mengenai prostitusi jalanan hingga rumah bordil.
Dalam pemberitaan koran berbahasa Belanda “Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsche-Indie pada 26 Oktober 1931, disebutkan adanya petisi terhadap Dewan Kota Bandung tentang perlunya ordonansi mengenai prostitusi jalanan hingga rumah bordil. /Native Indonesia
PIKIRAN RAKYAT - Kisah pelacuran di Kota Bandung punya tautan menarik dengan dunia pergerakan kaum nasionalis kala negeri ini masih dalam kekuasaan pemerintah Kolonial Hindia Belanda.
 
Aktivitas prostitusi yang kerap dikenal sebagai "pelesiran" di Bandung juga tercatat dalam roman, berbagai catatan hingga potongan tulisan/berita koran lawas tempo dulu.
 
Tak dinyana, Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan Bung Karno punya 670 anggota dari kalangan pelacur di Bandung yang turut terlibat dalam pergerakan kaum nasionalis melawan Belanda.
 
”Pelacur adalah mata-mata yang paling baik di dunia. Aku telah membuktikannya di Bandung,” kata Soekarno dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat ­Indonesia yang ditulis Cindy Adams.
 
Sang Proklamator mengenang para pelacur itu sebagai anggota paling setia dan patuh. Ia bahkan menyebut mereka dengan ­istilah “pasukanku”.
 
 
 
Mereka merupakan mata-mata hebat yang bisa membantu Bung Karno guna mengorek rahasia polisi-polisi Belanda.
 
”Bila aku memerlukan suatu informasi, aku sampaikan kepada anggota pasukanku itu, sambil menunjuk seorang polisi tak jauh dari situ,” tuturnya. 
 
Rahasia dan informasi polisi Belanda yang dibutuhkan Bung Karno akhirnya terkuak berkat jasa mereka. Tak hanya itu, Soekarno juga memuji prestasi mereka dalam urusan sumbangan terhadap partai. 
 
”Mereka adalah satu-satunya anggota kami yang selalu mempunyai uang. Mereka menjadi penyumbang ke­uanga­n partai yang baik apabila memang diperlukan,” ucapnya. 
 
 
Tindakan Bung Besar ter­sebut menuai kecaman dari dalam PNI lantaran dianggap memalukan, me­ren­dahkan nama, dan tujuan par­tai.
 
Bung Karno me­nyang­gah tudingan tersebut dan menyebut para ”tentara khusus” itu sebagai orang revolusioner yang terbaik. 
 
”Bagiku persoalannya bu­kan bermoral atau tidak ber­moral. Tenaga yang dahsyat itulah satu-satunya yang kuperlukan,” tuturnya.
 
Soekarno memang menja­dikan semua lini sebagai palagan melawan kekuatan kolonial Belanda.
 
Kehadiran anggota partai dari kalangan ”kupu-kupu malam” itu bah­kan salah satu teknik psiko­logi massa Bung Karno untuk mengikat kesetiaan ang­gota yang lain. 
 
”Setiap hari Rabu, cabang partai kami mengadakan kur­sus politik dan lelaki para anggota partai akan datang beramai-ramai apabila mereka dapat melepaskan pandang pada tentaraku yang cantik-cantik itu. Jadi, aku tentu harus mengusahakan agar mereka selalu datang setiap Minggu,” ucapnya. 
 
 
Rapat pun bisa dibuat di rumah pelacuran guna membingungkan polisi yang terus mengawasi aktivitas Bung Karno dan organisasi perge­rakannya.
 
”Kami pergi sen­diri-sendiri atau dalam ke­lompok kecil. Setelah rapat berhasil mengambil keputus­an, kami bubar, seorang me­la­lui pintu depan, dua orang lagi melalui pintu samping, aku mengambil jalan bela­kang dan seterusnya,” ujar Bung Karno
 
Pemberantasan
 
Dunia prostitusi sudah cu­kup lama ada di Bandung. Upaya pemberantasan praktik persundalan tersebut juga dilakukan pemerintah Hindia Belanda.
 
Dalam pemberitaan koran berbahasa Belanda Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsche-Indie pada 26 Oktober 1931, misalnya, disebutkan adanya petisi terhadap Dewan Kota Bandung tentang perlunya ordonansi atau peraturan mengenai prostitusi jalanan hingga rumah bordil. 
 
Sementara De Expres pada 28 Januari 1913 memuat tulisan sema­cam surat pembaca dari Peng­urus Boedi Oetomo Afdeling (cabang) Bandung serta Sarikat Bumi Poetra terkait rencana pembentuk­an komite merespons upaya memerangi prostitusi dalam artikel koran itu sebelumnya. 
 
Pemberantasan pelacuran juga muncul dalam pemberitaan Algemeen Indisch Dagblad, 19 Juli 1950.
 
Koran tersebut mengabarkan pe­ning­katan kegiatan prostitusi, terutama prostitusi ja­lanan di Bandung yang dires­pons dengan penggerebekan besar-besaran di sejumlah lokasi.
 
“Saat diinterogasi, terung­kap banyak dari mereka ber­asal dari kota-kota kecil di kawasan Bandung.” Demikian pernyataan koran itu. 
 
Mereka yang tertangkap se­bagian besar merupakan gadis muda yang datang ke Bandung karena terbuai janji-janji indah, pakaian indah, perhiasan, dan sejenisnya. Se­jumlah rumah mencuriga­kan yang diduga sarang pela­curan pun ditutup.
 
Dunia kupu-kupu malam Bandung juga masuk dalam roman karya Chabanneau ber­judul Rasia Bandoeng atawa Satoe Pertjintaan jang Melanggar Peradatan Bangsa Tionghoa. Satoe tjerita jang benar-benar terdjadi di kota Bandoeng dan berachir pada tahon 1917. 
 
Chabanneau melukiskan kegiatan prostitusi di Bandung dalam salah satu babnya tentang rumah pelesiran di Tegallega.
 
”Roemah itu ada salah satoe dari rumah plesiran jang terkenal di Kota Bandoeng, kerna bi' Emi djang djadi eigenares dari itoe roemah, ada terkenal oeloeng dalam pekerdjaan boewat tjari koepoe-koepoe malam, tida heran lagi, kaloe di-itoe roemah siang-malam tida poetosnja tetamoe jang datang, boewat tjari plesiran dan tjari penghiboeran hati,” demi­kian cerita roman itu tentang rumah pelesiran di Tegallega dinukil dari buku (Bukan) Tabu di Nusantara yang di­tulis Achmad Sunja­yadi.
 
Selain rumah pelesiran Bi Emi, ada juga rumah bordil milik Neng Dertji yang keduanya berlokasi masih dalam satu kawasan.
 
Tegallega tempo dulu merupakan area pacuan kuda dalam roman itu dan tercatat ada ru­mah pelesiran di dekatnya.
 
Bagaimana dengan lokasi lain Bandung
 
De Prenger Bode me­nu­liskan penelusurannya tentang kawasan hitam Bandung ter­kait peredaran opium dan prostitusi pada edisi 17 Maret 1922.
 
Tulisan itu menam­pil­kan sosok yang di­tulis sebagai subjek pertama 'saya' yang bersama komisaris polisi berkeliling Bandung
 
Perjalanan tersebut meng­gambarkan pertemuan de­ngan para pemadat opium di lorong lurus yang sempit se­telah mereka tiba di Cikakak. Sementara itu, rumah bordil di­temui kala perjalanan me­reka mendekati Citepus.
 
”Sebuah jalan kecil langsung mem­bawa kami ke kampung dan perempatan rumah bordil. Rumah ke rumah di sini adalah rumah bordil.” Demikian kalimat dalam De Preanger Bode.
 
Apakah Citepus yang dimaksud adalah Sungai Citepus? Tulisan itu tak meme­rinci lebih detail. Namun, jika benar dekat Sungai Citepus, pa­tut diduga lokasi tersebut merupakan Saritem, satu wila­yah di Jalan Gardujati yang kondang sebagai tempat lokalisasi di Bandung yang juga berada di dekat sungai tersebut.
 
Saritem sempat tertulis dalam pemberitaan Soerabaijasch Handelsblad pada 10 Oktober 1930 yang mengutip Java Bode.
 
”Di Gang Saritem di Bandoeng ada sebuah rumah yang di depannya ada meja biliar dan yang sebenarnya adalah semacam kedai kopi, yang dioperasikan oleh se­orang pensiunan tentara Eropa. Selain menjadi kafe, rumah itu juga menjadi sa­rang perjudian dan karena­nya cukup ramai.” 
 
Polisi kemudian melak­u­kan penggerebekan. Rumah pelesiran memang tak disebut-sebut dalam berita itu. Namun, aktivitas yang me­langgar aturan rupanya sudah ada di sana sejak lama.***

Editor: Yusuf Wijanarko


Tags

Artikel Pilihan

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network