Minggu, 15 Desember 2019

Informasi Potensi Gempa dan Tsunami Membuat Masyarakat Resah

- 22 Juli 2019, 05:33 WIB
ILUSTRASI gempa berpotensi tsunami.*/ANTARA

BANDUNG,(PR).- Beredarnya informasi tentang potensi gempa berkekuatan 8,8 skala richter yang disertai tsunami setinggi 20 meter di selatan Pulau Jawa menimbulkan keresahan di masyarakat. Bahkan di media sosial, marak juga reaksi keresahan itu dengan rencana evakuasi ke tempat-tempat yang dirasa aman.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kemudian memberikan tanggapan untuk meredakan kekhawatiran masyarakat. Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono menjawabnya melalui akun Instagram-nya, @daryonobmkg, pada Sabtu 20 Juli 2019.

Menurut Daryono, masyarakat harus menerima kenyataan, Indonesia rawan gempa dan tsunami. Khususnya wilayah selatan Jawa, keberadaan zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia merupakan generator gempa kuat. Dengan demikian, wajar bila wilayah selatan Jawa merupakan kawasan rawan gempa dan tsunami.

Daryono juga memaparkan sejumlah kejadian gempa besar melebihi magnitudo 7,0 yang pernah mengguncang wilayah Samudera Hindia selatan Jawa. “Sebut saja pada 1863, 1867, 1871, 1896, 1903, 1923, 1937, 1945, 1958, 1962, 1967, 1979, 1980, 1981, 1994, dan 2006. Selain itu, tsunami juga pernah di selatan Jawa pada 1840, 1859, 1921, 1994, dan 2006,” katanya dalam cuitannya.

Lebih lanjut, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi PVMBG Badan Geologi menjelaskan lokasi Indonesia yang berada di titik temu tiga lempeng tektonik aktif utama dunia, yaitu Indo-Australia, Pasifik dan Eurasia memiliki konsekuensi menjadi areal sumber gempa bumi. Sedikitnya terdapat 252 sumber gempa bumi (patahan aktif) yang telah berhasil diidentifikasi oleh Pusat Gempabumi Nasional (Pusgen). 

Tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia membentuk zona subduksi Sunda, yang merupakan sumber gempa bumi utama, di sepanjang perairan selatan Jawa. Zona subduksi Sunda berpotensi menghasilkan gempa bumi pada kedalaman dangkal. 

“Gempa bumi menengah-besar pada kedalaman dangkal berpotensi memicu kejadian tsunami. Hal ini menyebabkan wilayah pantai selatan Jawa rawan terhadap bencana tsunami,” ucapnya.

Selain itu, Sri juga membeberkan 20 kejadian tsunami di pantai Selatan Jawa sejak awal abad ke-20. Tsunami itu dipicu oleh guncangan gempabumi. Wilayah yang pernah dilanda tsunami tersebut adalah Pangandaran (1921, 2006), Kebumen (1904), Purworejo (1957), Bantul (1840), Tulungagung (1859), Jember (1921) Banyuwangi (1818, 1925, 1994).

Sedangkan pada 1990-an dan 2000-an, kata Sri, dua tsunami besar melanda Banyuwangi (1994) dan Pangandaran (2006). Tsunami Banyuwangi dipicu oleh gempa bumi dengan magnitudo M7.2 dan menyebabkan 377 orang meninggal. Sedangkan tsunami Pangandaran yang menyebabkan 550 korban jiwa dipicu oleh gempa bumi skala Mw7.7 yang menghasilkan gelombang tsunami dengan tinggi 1-6 m dan jarak landaan 100-400 m. 


Halaman:

Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

X