Rekayasa Sukajadi Ditetapkan, Rekayasa Titik Lain Disiapkan

- 19 Juli 2019, 09:25 WIB
PETUGAS Dinas Perhubungan memberikan arahan kepada pengendara yang mencoba memutar ke arah menuju Jalan Sukajadi bawah, Kota Bandung, Kamis, 11 Juli 2019. Pemerintah Kota Bandung bersama Polrestabes Bandung melaksana­kan rekayasa lalu lintas kawasan Sukajadi, Cipaganti, dan Setiabudi menjadi satu arah sebagai upaya untuk mengurai ke­macetan yang terjadi khususnya saat akhir pekan.*/ARIF HIDAYAH/PR

BANDUNG, (PR).- Setelah melewati uji coba selama seminggu, rekayasa kawasan Sukajadi akhirnya diberlakukan permanen. Rekayasa yang mencakup Jalan Sukajadi, Setiabudi, Cipaganti, dan jalan pendukung di sekitarnya dinyatakan telah berhasil mengurangi kepadatan yang selama ini kerap terjadi.

Pada Kamis, 18 Juli 2019, diadakan rapat evaluasi yang dihadiri Polrestabes Bandung, Dinas Perhubungan Kota Bandung, TNI, Organda dan perwakilan angkutan umum, hingga sejumlah warga dari wilayah yang terdampak rekayasa. Kasatlantas Polrestabes Bandung AKBP Agung Reza mengatakan, setelah pemberlakuan rekayasa itu akan ada titik kemacetan lain yang akan diselesaikan dengan rekayasa jalan.

“Saat ini (rekayasa Sukajadi) sudah permanen. Jadi saat sudah dipermanenkan, infrastruktur atau sarana prasarana yang melengkapi akan diubah baik itu rambu, APILL, itu semua diperbaiki. Jadi ada perubahan, pemasangan rambu, mulai besok berjalan,” ujar Reza, seusai rapat evaluasi.

Jalur utama Sukajadi, Setiabudi, Cipaganti, dan Cihampelas, dinilai telah berubah semakin lancar. Bahkan, petugas memastikan berkurangnya kemacetan hingga 70% berdasarkan hitungan simulasi perangkat lunak VSim sudah akurat.

“Saat diterapkan di awal, kita tidak bisa mencapai, bahkan kemacetan tidak berkurang. Tetapi secara berjalannya waktu, tiga hari, itu sudah mulai nampak perubahan. Sampai hari ke-8, sudah mulai kelihatan pengurangan kemacetan yang kita tentukan benar-benar menjadi 70%. Seperti yang sudah disimulasikan oleh software VSim. Berarti sudah sangat akurat,” katanya.

loading...

Kelancaran jalur yang direkayasa juga muncul dari aspirasi warga terdampak. Saat ini masyarakat kesulitan menyeberang jalan. Warga pun meminta adanya sarana penyeberangan yang menjamin keselamatan pejalan kaki.

“Karena memang kondisinya sudah cukup lancar. Untuk menyeberang saja warga harus menunggu 15 menit, karena kecepatan cukup tinggi. Yang tadinya kecepatan hanya 10 kilometer per jam, merayap, sangat pelan sekali, ini meningkat sampai 40 kilometer per jam. Memang ada penyesuaian untuk keselamatan, harus peningkatan lagi sarana prasarana untuk penyeberang jalan dan pejalan kaki,” katanya.

Reza menilai imbas dari rekayasa itu tetap ada, terutama di jalur imbangan di luar kawasan seperti simpang Ir. Djundjunan-Sukajadi-H.O.S Tjokroaminoto (Pasirkaliki). Namun, kemacetan itu dianggap bisa diatasi dengan pengaturan durasi Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL).

Sulit diurai

Sebelumnya, kata dia, kepadatan di simpang tersebut, serta di Nyland-Sukajadi sulit diurai meski telah ditempatkan banyak personel. Sukajadi juga jadi biang antrean panjang dari arah Pasirkaliki, Pasteur, dan Pasteur dari arah timur.

Halaman:

Editor: Endah Asih


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X