Minggu, 15 Desember 2019

[Laporan Khusus] BAB Sembarangan Tak Jadi Perhatian

- 16 Juli 2019, 08:12 WIB
WARGA saat hendak Buang Air Besar (BAB) menggunakan MCK yang kurang memadai di Desa Margamulya, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Senin, 8 Juli 2019. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat di tahun 2016, sekitar 4 juta warga Jabar BAB sembarangan, 34% atau 16 juta jiwa tanpa sarana MCK yang memadai.*/ADE MAMAD/PR

BANGUNAN serupa tenda berbahan terpal warna biru itu, dengan tinggi dan panjangnya sekitar 1,5 meter dengan lebar 1 meter, berada persis di halaman depan rumah panggung milik seorang warga di Cikawari, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Agar berdiri tegak, bagian tengah terpal dipasang sebilah bambu memanjang yang ditopang tiang di kedua ujungnya. Ada satu sisi yang berfungsi sebagai pintu.

Pada pagi hari, kesibukan di tenda terpal itu lebih dari biasanya. Apa pasal? Soalnya, itu­lah sarana mandi, cuci, kasus (MCK) keluarga tersebut. Jangan bayangkan tentang kloset dan lantai yang nyaman atau saluran pembuangan dan bak air yang memadai. Semuanya serbadarurat. Bagi penggunanya, yang penting aktivitas rutin dapat terlaksana.

Jamban-jamban darurat seperti ini tersebar di berbagai kampung di Kecamatan Cimenyan. Bahkan, ada yang sama sekali beratapkan langit, berdinding dari bekas karung pupuk urea atau baliho calon kepala daerah. ­Klosetnya ha­nya lubang tanah yang saluran pembuangannya entah ke mana. 

Tidak sulit memang menemukan kondisi sarana MCK seperti ini di kawasan Cimenyan. ”Kami sudah memetakannya. Di wilayah ini, setidaknya dibutuhkan 70 unit sarana MCK komunal agar masyarakat bisa hidup sehat,” ujar Ketua Yayasan Odesa Indonesia, Faiz Manshur, kepada ”PR”, Sabtu, 13 Juli 2019. Yayasan yang dipimpinnya bergiat dalam urusan sosial di tengah masyarakat Cimenyan.

Apa yang terjadi di pelosok kawasan Bandung utara tersebut hanya contoh kecil tentang buruknya kondisi sanitasi sebagian warga Jawa Barat. Te­ngok­lah data yang dirilis Badan Pusat Statistik Jawa Barat tahun 2016. Dari 12.589.790 keluarga, sebanyak 4.351.031 (34,56%) keluarga di antaranya masih buang air besar (BAB) sembarangan. Jika dihitung dengan jumlah orang, diperkirakan terdapat 16.359.878 jiwa BAB tidak layak. 

Pada tahun 2017, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro mengungkap ada 28 juta warga Indonesia yang masih buang air kecil dan buang air besar (BAB) sembarangan. 

 Hasil survei Bank Dunia 2008 menyebutkan, sanitasi buruk telah merugikan Indonesia hingga Rp 56 triliun atau sekitar 2,3% dari pendapatan per kapita (GDP) Indonesia.

Meskipun memiliki masalah mendasar yang berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia, tampaknya Pemerintah Provinsi Jawa Barat belum merasa perlu membuat langkah terobosan dalam ­urusan sarana MCK (jamban). Pemprov Jabar lebih memilih memasukkan revitalisasi alun-alun dalam 40 proyek strategis.

Menurut Kepala Badan Penge­lolaan Keuangan dan Aset Daerah Jabar Nurdialis, tahun ini, Pemprov Jabar menyalurkan bantuan untuk delapan kota dan kabupaten dalam program itu. Untuk  Kabupaten Bandung Rp 15 mi­liar, Indramayu Rp 15 miliar, Karawang Rp 18 miliar, Majalengka Rp 18 miliar, Kabupa­ten Tasikmalaya Rp 15 miliar, Sumedang Rp 18 miliar, Kota Cirebon Rp 30 miliar,  dan Kota Sukabumi yang meliputi alun-alun Rp 5 miliar, penataan Lapangan Merdeka Rp 5 miliar, kawasan untuk pedestrian Lapangan Merdeka Rp 5 miliar, dan jalur bagi pedestrian Jalan Juanda Rp 3 miliar.


Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

X