Kamis, 12 Desember 2019

Baterai dari Tomat Busuk, Temuan Sumber Energi yang Ramah Lingkungan

- 1 Mei 2019, 21:21 WIB
Muhamad Abidin dan Fitri Isni Apriliany, mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Informatika Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) berhasil membuat Baterei dari Tomat (Bamat). Inovasi mereka dinobatkan sebagai Juara 1 pada Lomba Karya Tulis Ilmiah National Research Inovation Call for Paper of Agrotechnology (NURSERY) 2019 yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Malang.*/RIRIN NF/PR

ENERGI listrik berperan penting bagi kehidupan manusia karena menopang berbagai aktivitas. Namun, penggunaan energi listrik yang semakin meningkat tak sebanding dengan sumber energi yang terbatas.

Muhamad Abidin dan Fitri Isni Apriliany, mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Informatika Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), tercetus ide untuk membuat energi terbarukan yang ramah lingkungan. Berbagai inspirasi digali hingga akhirnya berhasil membuat Baterai dari Tomat (Bamat). 

Hasil karya inovasi tersebut telah dinobatkan sebagai Juara 1 pada Lomba Karya Tulis Ilmiah National Research Inovation Call for Paper of Agrotechnology (NURSERY) 2019 yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Malang. Seleksi lomba tersebut berjenjang, mulai dari tahapan seleksi abstrak, seleksi full paper, dan tahap grand final hingga diumumkan sebagai pemenang pada 20 April 2019 lalu.

Abidin mengatakan, dirinya memulai riset membuat energi terbarukan dari jenis pangan yang mengandung asam. "Awalnya coba pakai belimbing wuluh tapi sulit ditemukan. Lalu dalam 1-2 bulan terakhir tercetus ide pakai tomat yang lebih mudah didapat, tapi tomat sudah punya nilai jual. Akhirnya diputuskan pakai tomat busuk, berlimpah mudah didapat dan harganya miring," ujarnya.

Sebagai negara agraris, dalam setahun produksi tomat Indonesia bisa mencapai 916.000 ton namun, 80 persen diantaranya busuk. "Di era industri pangan 4.0, saya lihat belum ada yang memanfaatkan tomat busuk. Sering juga petani membuang begitu saja tomat yang tidak bagus kualitasnya maupun yang busuk," ucapnya.

Untuk membuat Bamat, Abidin dan Fitri pun memanfaatkan baterai bekas. Didalam baterai mengandung berbagai macam logam berat seperti merkuri, mangan, timbal, nikel, lithium dan kadmium. Jika dibuang sembarangan maka logam berat di dalamnya bakal mencemari air tanah dan membahayakan kesehatan seperti gangguan di sistem saraf pusat, ginjal, sistem reproduksi dan bahkan kanker.
 

Tomat busuk mengandung elektrolit diproses menjadi jus diukur tingkat keasamannya hingga pH stabil. Baterai bekas dikosongnya isinya, pasta timbal yang terkandung didalamnya digabung dengan jus tomat busuk dan dimasukkan lagi ke dalam baterai bekas.

Semakin tinggi tingkat keasaman dari buah, maka semakin baik dalam menghantarkan arus listrik dan juga semakin besar energi listrik yang akan dihasilkan. "Setelah berbagai variasi komposisi kita dapat Bamat yang bisa menyimpan voltase yang stabil. Baterai ini tidak hanya sekali pakai, tapi bisa diberi daya berulang. Dengan kandungan katoda-anoda pada baterai bekas ditambah elektrolit dari buah, maka baterai ini menjadi biobaterai," katanya.


Halaman:

Editor: Eva Fahas

Tags

Komentar

Terkini

X