Penyakit Jiwa Penyebab Kematian Terbesar Kedua di Asia Tenggara

- 30 April 2019, 08:10 WIB
ILUSTRASI.*/CANVA

BANDUNG, (PR).- Angka kematian akibat penyakit tidak menular terus meningkat dengan lebih dari 70% kematian di dunia setiap tahun. Faktanya, penyakit jiwa menjadi penyebab kematian terbesar kedua dari penyakit tidak menular di Asia Tenggara, dan mulai menimpa banyak anak muda.

“Angka 80% (penyebab kematian akibat penyakit tidak menular) di Asia Tenggara. Jadi NCD (Noncommunicable Diseases) adalah persoalan besar dan kami ingin ini menjadi perhatian warga dunia karena ini bisa menimpa siapa saja, baik kaya maupun miskin, apakah dia tua ataupun muda,” ujar Peneliti Senior Kesehatan Publik dari RTI International, Dr. Ishu kataria, di Bandung, Senin, 29 April 2019.

Isu itu muncul di dalam acara Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI)-Engage gelaran Kedutaan Besar Amerika Serikat. Acara itu menerima 600 aplikasi ide dari 11 negara. Fokus penyakit jiwa cukup dominan dari para peserta anak muda itu.

Ishu menyatakan, perhatian dari calon pemimpin muda yang memfokuskan pada kesehatan jiwa itu disambut baik karena penyakit mental sering diabaikan. Selepas acara selama 5 hari di Bandung, peserta akan kembali ke negara masing-masing untuk mengimplementasikan idenya dan diterapkan melalui kolaborasi bersama universitas, organisasi, hingga pemerintah.

“Maka yang kami harap dari acara ini adalah menggerakkan pemimpin muda agar mereka lebih sadar akan bahaya dampak dari penyakit tidak menular karena kami yakin mereka memiliki kemampuan untuk membawa perubahan. Karena mereka bisa berpotensi terkena penyakit tidak menular tetapi mereka jugalah yang bisa berani ke luar untuk mengubah masa depan,” ujarnya.

loading...

Salah seorang peserta dari Indonesia, Arindah Arimoerti Dano dipilih YSEALI-Engage dengan ide menghapus stigma kesehatan jiwa dan meningkatkan kepedulian masyarakat. Ia aktif di Pijar Psikologi, penyedia konsultasi psikologi gratis dan perluasan edukasi.

Selama ini, kata dia, angka pencarian bantuan bagi penderita penyakit jiwa masih rendah. Meskipun layanan Pijar Psikologi didukung 30 psikolog dan 20 psikolog magang, angka pencarian bantuan masih tergolong rendah karena orang masih takut mengajukan konseling.

“Jadi harapan kami angka pencarian bantuan akan lebih tingi, orang tidak takut, stigma terus rendah, tidak melulu ke psikolog atau psikiater hanya setelah gangguan mental berat,” ujarnya.

Soal biaya juga masih menjadikan warga ragu untuk menemui psikolog. Arindah mengungkapkan, kehadiran mereka ingin mengubah stigma itu.

Halaman:

Editor: Siska Nirmala


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

Fix Padang

Mengenang 118 Tahun Bung Hatta

13 Agustus 2020, 00:06 WIB
X