Jumat, 13 Desember 2019

[Laporan Khusus] Pemerintah Berharap PLTSa Menjadi Solusi Masalah Sampah

- 16 April 2019, 11:45 WIB
Maket PLTSa Gedebage.*/DOK PR

Sampah plastik menjadi salah satu ancaman terbesar bagi keberlangsungan peradaban manusia. Di Indonesia, sampah plastik menempati urutan kedua setelah setelah sampah sisa makanan, disusul kayu ranting, kertas, logam, kain tekstil, karet kulit, dan kaca. 

Persoalannya, hingga saat ini tak semua sampah bisa didaur ulang. Kalaupun pro­ses daur ulang itu terjadi, sebagian kecil saja yang bisa dilakukan. Tanpa ada pena­nganan yang serius dalam pengelolaan sampah, maka seluruh Pulau Jawa pada 2038 akan tertimbun sampah dengan ke­tinggian satu hingga dua sentimeter. 

Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional pada 2017-2018 di Pulau Jawa saja mencapai 168.629 ton/hari. Dari jumlah itu, 14% di antaranya sampah plastik yang tidak bisa terurai. Sampah-sampah itu pun tak semuanya tertampung di tempat pembuangan akhir sampah. Ada sekitar 3,8 juta ton/tahun sampah plastik yang masuk ke laut. Kondisi tersebut jauh lebih berbahaya dari tumpahan minyak, saat pengelolaan minyak di laut mengalami kebocoroan. 

Tentunya pemerintah pusat bergerak cepat untuk bisa menjadikan sampah tak terurai menjadi tenaga listrik. Pemerintah pusat telah menerbitkan Peratur­an Presiden No 35/2018 tentang percepatan pembangunan instalasi pengelolaan sampah menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan. Di peraturan itu ada 12 kota yang dicanangkan untuk membangun pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Surakarta, Makassar, Denpasar, Palembang, Manado, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Bekasi. 

”Proyek pembangunan itu lebih banyak memberdayakan badan usaha milik daerah (BUMD) yang memiliki studi kelayakan, peme­rintah pusat berkeinginan agar manfaat pengelolaan sampah bisa dirasakan oleh masyarakat. Mes­ki­pun demikian, bukan berarti pemerintah pusat melepaskan begitu saja. Bantuan biaya penge­lolaan sampah masih diberikan dari pusat,” kata Direktur Penge­lolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutan­an Novrizal Tahar, saat dihubungi ”PR” akhir pekan kemarin. 

Dia menjelaskan, teknologi PLTSa mampu mereduksi sampah hingga 90%, yang tersisa hanya abunya. Namun, untuk pengguna­an teknologi saat ini, baru di TPA Wino­ngo Surabaya yang pengelolaan sampahnya benar-benar bisa digunakan untuk tenaga listrik.

Dari 1.000 ton per hari, TPA Winongo sanggup menghasilkan listrik 9-11 megawatt. Sementara itu, untuk di TPST Bantargebang Bekasi, yang saat ini dikelola oleh Pemrov DKI Jakarta, Novrizal menyebutkan baru skala kecil. Dari 100 ton sampah per hari, listrik yang bisa dihasilkan 500-700 kw/jam. 

Padahal, setiap harinya TPA Bantargebang mendapat kiriman sampah 7.000 ton. Sampah sebanyak itu memang belum bisa diolah sepenuhnya menjadi tenaga listrik, karena apa yang dilaku­kan di TPST Bantargebang merupakan ­pilot project dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Proyek PLTSa yang se­sungguhnya sedang dilakukan di Sunter Jakarta Utara. Proyek tersebut bekerja sa­ma dengan perusahaan Finlandia ber­na­ma Intermediate Treatment Facility (ITF). 

Proyek PLTSa untuk 12 kota di Indonesia diharapkan bisa beroperasi penuh pada 2020 mendatang. Idealnya, proyek tersebut bisa berjalan bersamaan. Namun, perkembangan pengelolaan sampah menjadi energi listrik yang paling cepat berjalan baru di Surabaya.


Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

X