Sabtu, 29 Februari 2020

[Laporan Khusus] Berkah di Balik Timbunan Sampah

- 16 April 2019, 10:45 WIB
Bantar Gebang.*/ANTARA

Manta (35) masih ingat betul cerita orangtuanya ketika ia masih kecil. Menurut sang ayah, lapangan luas yang membentang di depan rumahnya akan disulap menjadi sebuah bandara. Pesawat terbang akan berseliweran di hadapan warga RT 4 RW 4 Kelurahan Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang itu, setiap harinya.

Namun, apa yang dibayangkannya tersebut buyar saat cerita sang ayah berbeda jauh dari kenyataan yang tampak di depan matanya. Bukan­lah pesawat yang bisa disaksikan setiap hari, melainkan hilir mudik truk-truk peng­angkut sampah dengan bonus bau tak sedap yang justru harus dinikmatinya.

Meski sempat kecewa, Manta kecil bisa segera membuat dirinya senang dengan kehadiran alat-alat berat di sekitar area yang kini dikenal sebagai Tempat Peng­olahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar­gebang. Waktu bermainnya sering kali dihabiskan di sekitar alat-alat berat yang diparkir setelah meratakan tumpukan sampah.

Mungkin karena kebiasaan saat kecil itu pula, Manta dewasa tak lagi asing dengan alat berat, sehingga sejak 2004 ia bekerja sebagai salah seorang operator alat berat di TPST Bantargebang.

Kini, total sudah 15 tahun Manta ada di balik kendali alat berat yang biasanya ­berada di puncak gundukan sampah tersebut. Ia biasa bekerja sesuai dengan sif yang ditentukan.

Sif paling menantang ialah jika ia harus bertugas pada malam hari. Berbekal ­penerangan seadanya dari alat berat, ­gundukan sampah harus diratakannya agar rapi. 

”Ya, ini pekerjaan yang berisiko juga, karena ada kejadian teman saya sesama operator alat berat sampai terjungkal bersama alat ­beratnya hingga kakinya patah,” kata Manta.

Meski tugasnya berisiko, Manta tetap bersyukur bisa hidup ber­dampingan de­ngan TPST Bantargebang. ”Masalah bau sih ­sudah tidak jadi persoalan lagi. Bertetangga dengan TPST Bantar­gebang, ya enak enggak enak. Tetapi karena ada TPST Bantargebang juga saya jadi punya pekerjaan untuk menafkahi keluarga,” ucapnya.

Menjanjikan

Daya tarik dari segi materi itu juga yang memancing ­Mama Nabila (29) merantau ke Bekasi dari kampung halamannya di Jawa Tengah. Bersama sang suami, ia ikut menjadikan TPST Bantargebang sebagai sumber mata pencaharian.

Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X