Sabtu, 29 Februari 2020

[Laporan Khusus] Masih Adakah Asa Membangun PLTSa?

- 16 April 2019, 09:58 WIB
ILUSTRASI.*/DOK PR

PROGRAM pengelolaan sampah Kurangi, Pisahkan, ­Man­­faatkan (Kang Pisman) mulai melekat sebagai ­program ­unggulan pada kepemimpinan Oded M ­Danial-Yana Mulyana. Sejak prog­ram andalan tersebut diluncurkan, berbagai ­kelompok, badan ­usaha milik negara (BUMN), dan ­perusahaan swasta terus mendatangi Wali Kota dan Wakil Wali Kota ­Bandung itu dengan sodoran beragam alternatif pengolahan sampah.

Melalui Kang Pisman, komunitas yang giat mengelola dan mengurangi sampah mulai menggerakkan kelompok baru di sejumlah wilayah. Kawasan bebas sampah (KBS) binaan hasil kerja sama Pemkot Bandung dengan Pemerintah Kota Kawasaki Jepang mampu me­ngurangi produksi sampah. Bahkan, kini, penurunan jumlah sampah di KBS itu mencapai 60%-70%

Pemkot juga terus mendorong agar 1.586 RW di Kota Bandung memiliki bank sampah. Saat ini terda­pat tak kurang dari 300 bank sampah yang sudah berjalan. Jika program Kang Pisman bisa berjalan secara masif, dalam dua tahun ke depan, setidaknya sampah dapat dikurangi sebanyak 600-750 ton per hari.

Beragam metode pengolah­an sampah pun dicoba. Penge­lolaan sampah yang dapat di­selesaikan di sumber, sejak tingkat RW, mulai dari biodigester, bata terawang, maggot, alat pengomposan, takakura, hingga menggunakan lalat ”tentara hitam” yang sedang tren karena dinilai ekonomis dalam mengelola sampah organik.

Yang terbaru, Pemkot Bandung intensif mencoba metode peuyeumisasi. Pengolahan sampah ini diberi cairan khusus semacam bioaktivator dan diproses mirip teknik pembuatan peuyeum, makanan khas Sunda.

Warga RW 12 dan RW 14 Riungbandung, Kelurahan Cisaranten, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung juga mampu memproduksi paving block dari sampah plastik. Sejumlah perusahaan swasta dan BUMN juga menawarkan beberapa teknologi sederhana untuk skala kecil kepada Pemkot Bandung. Belum lama ini, Kedutaan Besar Swedia yang menemui Oded juga menawarkan teknologi pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) yang telah digunakan di negaranya.

Yang luput dibahas, Kota Bandung pernah menggagas PLTSa pada 2006. Dari rentang tiga belas tahun lalu, awal 2019 ini, Kota Bekasi telah mulai mengoperasikan PLTSa, meninggalkan Kota Bandung yang lama berselisih soal dampak lingkungan hingga dugaan monopoli perusahaan penyedia teknologi.

Guru Besar Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung Ari Darmawan mengatakan, pemanfaatan teknologi skala besar untuk pengolahan sampah Kota Bandung sudah selayaknya dimulai. ”Seharusnya (PLTSa Bandung) sudah dari tahun 2007,” ujarnya, belum lama ini.

Sempat memimpin tim studi kelayakan ITB untuk PTLSa Kota Bandung, Ari Darmawan menuturkan, PLTSa merupakan teknologi yang sudah mapan dan terbukti. Teknologi itu telah lama dioperasikan di beberapa negara. 

Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X