Rabu, 11 Desember 2019

Derita Dua Lansia, Kakak Sulit Melihat, Adiknya Susah Bicara

- 2 April 2019, 11:25 WIB
SUKRAWINATA (kiri) dan adiknya, Ratna (kanan) tampak kurus dan tak terurus di tempat tinggal mereka di Kampung Ciharashas, RT 2 RW 5, Desa Margajaya, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat.*/HENDRO HUSODO/PR

SEPASANG kakak beradik lanjut usia (lansia) yang memiliki keterbatasan fisik hanya bisa menunggu uluran tangan dari tetangga dan saudaranya untuk bertahan hidup. Jangankan untuk mencari uang, untuk melakukan aktivitas sehari-hari saja mereka kesulitan.

Sang kakak, Sukrawinata (60) mengalami gangguan penglihatan sejak sekitar dua tahun lalu. Sementara adiknya, Ratna (53) mengalami gangguan psikologis karena trauma mendalam yang akhirnya berdampak pada fisiknya.

Di tempat tinggal mereka di Kampung Ciharashas, RT 2 RW 5, Desa Margajaya, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, pada Selasa 2 April 2019, keduanya terlihat kurus dan tak terurus. Mereka hidup berdua di rumah seluas sekitar 28 meter persegi, yang dipinjamkan oleh saudara mereka.

Sukrawinata menceritakan, awalnya dia bisa melihat dengan normal dan bekerja sebagai buruh bangunan. Namun, sejak sekitar dua tahun lalu, pandangannya mulai buram dan matanya terus-menerus mengeluarkan air. Pada wajahnya tampak bekas lebam, karena sering jatuh terbentur.

"Awalnya mata saya iritasi. Biar sembuh, saya pakai obat tetes mata. Setiap minggu bisa habis sebotol, tapi tetap terasa. Mata saya yang kanan lalu mulai samar buat melihat. Sekarang kalau malam, saya sama sekali enggak bisa melihat. Akhirnya saya berhenti bekerja di proyek," katanya.

Mengenai kondisi adiknya, dia mengisahkan, semula Ratna bisa beraktivitas normal. Ratna menikah dan memiliki seorang anak laki-laki, tetapi perceraian membuat mentalnya jatuh. Terlebih, Ratna pun ditinggalkan anak yang dicintainya. Kondisi psikologis itu membuat fisiknya ikut terpuruk.

"Saya sudah lupa kapan perceraiannya, tapi sudah lama sekali. Sejak saat itu, dia (Ratna) mulai kesulitan bicara. Kalau makan, saya yang suapi. Dia juga jadi pikun. Pernah keluar dari rumah, tapi tidak pulang. Akhirnya, saya dibantu tetangga mencarinya," kata Sukrawinata, yang tak menikah karena waktunya habis untuk mengurus sang adik.

Selain itu, lanjut dia, Ratna pun sering terjatuh, sehingga beberapa giginya tanggal. Untuk itu, Sukrawinata membuat sejumlah bantalan di sudut-sudut rumah, agar adiknya tidak lagi terluka saat terjatuh. Lantaran sanitasi yang buruk di rumah, tubuh Ratna juga mulai dihinggapi borok. Sukrawinata malah harus meminta air dari sumur tetangganya yang berjarak cukup jauh.

Dengan segala keterbatasan, dia mengaku mengharap belas kasihan dari tetangga dan saudaranya untuk bertahan hidup. Namun, tak setiap hari bantuan beras atau makanan menghampiri mereka. Pun demikian dengan bantuan dari pemerintah.***



Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

X