Sejarah Pikiran Rakyat Sejak 1967

- 24 Maret 2019, 00:02 WIB
DOK PR

ADA dua peristiwa bersejarah di Bandung pada tanggal 24 Maret. Pertama, pada 24 Maret 1946 terjadi peristiwa yang revolusioner di Bandung, yakni Bandung Lautan Api.

Kedua, di tanggal dan bulan yang sama, tahun 1967, lahirlah sebuah harian umum bernama Pikiran Rakyat, di tengah situasi transisi politik dari Orde Lama ke Orde Baru. Tapi, sebagai sebuah suratkabar, sebenarnya Pikiran Rakyat tak bisa dibilang benar-benar baru.

Tujuhbelas tahun sebelumnya, tanggal 30 Mei 1950, telah berdiri koran dengan nama Warta Harian Pikiran Rakjat, yang diterbitkan oleh Bandung NV (Naamloze Vennootschap), sebuah penerbit di Jl. Asia Afrika 133, Bandung. Warta Harian Pikiran Rakjat didirikan oleh Djamal Alidan A.Z. Palindih.

Dikutip dari tulisan Muhammad Fasha Rouf, Djamal Ali menjabat sebagai Presiden Direktur, sedangkan jabatan Pemimpin Redaksi dipegang Sakti Alamsyah Siregar, sementara yang menjabat Ketua Bagian Penelitian, Perencanaan dan Promosi (BP3) adalah Ahmad Sarbini.

Bahkan, bila kita telusuri lebih panjang, masyarakat Bandung telah mengenal sebuah koran berkala bernama Fikiran Ra’jat, yang mulai terbit tahun 1926. Sebagai mana surat kabar dan koran di masa pergerakan nasional, Fikiran Ra’jat merupakan corong PNI (Partai Nasional Indonesia) bentukan Ir. Sukarno. 

Di Fikiran Ra’jat-lah, Bung Karno menuliskan pemikiran-pemikiran politiknya dalam menentang kebijakan dan politik pemerintah Hindia-Belanda. Namun, sekitar 1930-an,terutama sejak PNI dilarang oleh pemerintah kolonial, Fikiran Ra’jat tak terdengar lagi.

Baru di awal 1950, dengan sedikit perubahan ejaan, terbit sebuah “warta harian” bernama Pikiran Rakjat bentukan Djamal Ali.

Djamal Ali merupakan wartawan senior yang pernah memimpin surat kabar Boeroeh di Yogyakarta semasa revolusi fisik. Sebagai mantan wartawan koran yang condong ke ideologi kiri, ideologi Djamal Ali masih terlihat pada suratkabar bentukannya di Bandung yang cukup nasionalistis (“nasionalis kiri”).

Citra nasionalis Pikiran Rakjat semakin pekat dengan kehadiran Asmara Hadi di dalamnya. Sebagai “menantu angkat” Presiden Sukarno (ia menikah dengan Ratna Juami, anak angkat pasangan Inggit Garnasih – Sukarno), Asmara Hadi memang sangat dipengaruhi ideologi PNI.

Halaman:

Editor: Siska Nirmala


Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X