Museum Tidak Lagi Sekadar Informatif, tapi juga Canggih

- 18 Maret 2019, 03:25 WIB
SEJUMLAH pengunjung memainkan ludo raksasa yang ditampilkan pada acara Museum Festivities, di Area Taman Belakang Gedung Sate, Jalan Cimandiri, Kota Bandung, Jumat, 15 Maret 2019. Acara yang dilaksanakan selama dua hari itu diisi oleh beragam permainan, hiburan, hingga pameran 3D 48 Museum Se-Jabar. Acara itu digelar untuk lebih mengenalkan keberadaan museum pada masyarakat.*/ADE BAYU INDRA/PR

TUNTUTAN zaman menimbulkan perubahan dalam banyak hal, termasuk urusan museum. Minat berkunjung ke museum semakin tinggi ketika museum tidak lagi sekadar berisi artefak besejarah, tapi juga mengadopsi teknologi alias smart museum.

Di Jawa Barat, salah satu museum yang memosisikan diri sebagai smart museum adalah Museum-Gedung-Sate">Museum Gedung Sate yang telah diresmikan sejak 8 Desember 2017. Keberadaan teknologi di dalamnya ternyata telah membuat banyak pengunjung yang ingin melihat beragam informasik yang disajikan.

Selama setahun ke belakang, Museum-Gedung-Sate">Museum Gedung Sate yang berada di area perkantoran Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Gedung Sate, Jalan Diponegoro Kota Bandung, telah didatangi oleh 148.143 pengunjung. Dan, pada Jumat, 15 Maret 2019 dan Sabtu, 16 Maret 2019, museum itu merayakan satu tahun keberadaannya dengan kegiatan bertajuk Museum Festivities (Muvies).

Sekretaris Daerah Jawa Barat Iwa Karniwa mengatakan, capaian jumlah pengunjung merupakan pengaruh dari konsep smart museum. Konsep itu berhasil menyesuaikan konten museum sesuai dengan tuntutan zaman dan kebutuhan generasi muda dengan pendekatan kekinian. Konsep ini tidak hanya memamerkan koleksi yang informatif, tetapi juga mengedepankan pemanfaatan kemajuan teknologi canggih.

"Tidak hanya memiliki koleksi informatif, tetapi juga kuat secara visual dan mengedepankan kemajuan teknologi. Disini hadir pula perpustakaan dengan koleksi buku-buku sejarah, serta galeri kopi Jawa Barat sebagai sebuah kesatuan, " kata Iwa, Minggu, 17 Maret 2019.

loading...

Dalam Muvies yang telah selesai diselenggarakan, ada 48 museum dari seluruh Jawa Barat yang juga bereksebisi di halaman belakang Gedung Sate. Selain itu, Muvies juga diisi dengan berbagai permainan dan lomba, seperti lomba mewarnai dan menggambar, serta live-action ludo.

Yang menarik, pada dua big screen yang terletak di pinggir panggung, terdapat insert penerjemah untuk teman-teman yang tuna rungu. Itu menjadikan Muvies sebagai acara yang juga ramah kepada teman-teman difabel.

Meningkatkan minat baca 

Iwa menuturkan harapannya supaya kehadiran museum dapat meningkatkan minat baca masyarakat. Apalagi, berdasarkan survey literasi global tahun 2016, Indonesia hampir terbelakang, yakni posisi ke-60 dari 61 negara yang disurvei. Posisi Indonesia diapit Thailand di posisi ke-59 dan Botswana di posisi bungsu ke-61.

Halaman:

Editor: Vebertina Manihuruk


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X