Rabu, 11 Desember 2019

Hari Ini, Bandung Masih Menjadi Barometer Musik

- 12 Februari 2019, 17:34 WIB
PAS Band/YUSUF WIJANARKO/PR

DALAM peta industri musik Indonesia, Bandung menjadi salah satu barometer perkembangan musik. Tak dapat di­mungkiri, seniman musik bermunculan dari kota ini. Begitu pula dengan rentetan karya populer yang menjadi tolok ukur produktivitas para musisi.

Pengamat musik Buky Wikagoe menyebutkan, predikat Bandung sebagai salah satu kiblat musik muncul pada era 1970-an. Ketika itu, Kota Kembang disandingkan de­ngan Malang dan Medan.

Jika ada musisi atau band yang "selamat" main di Kota Kembang, me­reka bisa menguasai panggung musik Indonesia. Penonton Bandung, kata Buky, memang dikenal kritis. Apalagi persaingan antarmusisi terutama di ranah musik rock sangat ketat.

"Dulu majalah musik Aktuil menyebut Bandung adalah barometer musik di Indonesia. Saya pribadi juga lebih senang menyebut barometer daripada Bandung kota musik. Soalnya, Bandung memang lumbungnya musisi dan karya yang berkualitas. Dulu itu musisi dari Bandung dan Surabaya saja sangat bersaing. Kalau tampil satu panggung, alat dan sound system-nya enggak mau bareng. Kalau sekarang situasinya lebih adem," tutur Buky di Bandung, Kamis 7 Februari 2019.

Menurut Buky, saat ini Bandung masih layak disebut sebagai barometer musik Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari produktivitas para musisinya. Selain itu, selalu ada bintang baru yang muncul. Selera musik pendengarnya juga bisa dipertanggungjawabkan.

Elemen lain yang mendukung Kota Kembang sebagai barometer musik Indonesia adalah hidupnya radio dan berbagai kegiatan musik yang diadakan setiap minggu. Akan tetapi, kata Buky, anehnya Parijs van Java tidak pernah menjadi tuan rumah ­perhelatan musik besar atau festival musik berskala nasional.

Untuk itulah, saat ini yang dibutuhkan Kota Kembang bukanlah Undang-Undang Permusikan. Namun, peraturan yang membuat hak pekerja seni terutama musik lebih diperhatikan.


Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Tags

Komentar

Terkini

X