Jumat, 28 Februari 2020

Peta Bencana Harus Jadi Dasar Pengaturan Tata Ruang

- 17 Januari 2019, 15:26 WIB
PETUGAS Gabungan terus berupaya mengevakuasi korban tanah longsor yang belum ditemukan di Kampung Garehong, Dusun Cimapag, Desa Sinarresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Sabtu, 5 Januari 2019. Seiring rencana tanggap darurat bencana yang berakhir hari ini Minggu (6/1/2019), kendati pasrah, sejumlah keluarga korban berharap jika tim gabungan segera menemukan keluarganya yang masih tertimbun longsoran tanah.*/ADE MAMAD/PR

BANDUNG, (PR).- Pemerintah harus tegas menjadikan peta bencana sebagai dasar pengaturan tata ruang kota. Penataan ruang dan pembangunan gedung harus didesain agar mampu mengurangi risiko bencana.

Guru Besar Geoteknik Universitas Katolik Parahyangan Paulus Pramono Rahardjo menjelaskan, menata dan membangun sebuah kota perlu kearifan. Artinya, perlu mengacu pada keseimbangan alam.

"Kalau membangun tidak boleh merusak keseimbangan alam," katanya dalam orasi ilmiah Menyelisik Untaian Bencana di Kepingan Surga Tatar Parahyangan dalam rangka Dies Natalis ke-64 Unpar, Kamis 17 Januari 2019.

Ia mengatakan, tak semua bencana mudah dihindari. Namun yang penting, risiko bencana harus bisa dikurangi. Utamanya bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana seperti di Jawa Barat.

Ia menjelaskan, bencana yang paling banyak terjadi di Jawa Barat ialah tanah longsor. Setidaknya terdapat 400 titik longsor per tahun dengan ukuran bervariasi.

Longsor banyak terjadi di Jabar bagian selatan. Potensi gempa bumi berasal dari tiga sesar di Jabar, Sesar Lembang, Sesar Cimandiri, dan Sesar Baribis. Banjir berpotensi besar terjadi di Bandung, Garut, dan Indramayu.

Potensi bencana gunung berapi berasal dari Gunung Tangkubanparahu, galunggung, Papandayan, dan Gede. Selain itu juga terdapat potensi bencana geoteknik yang berasal dari land subsidence, settlement, dan lereng buatan manusia.

Potensi magnifikasi

Ia menambahkan, berdasar penelitian tanah di Bandung bagian selatan tergolong tanah lunak. Hal ini menyimpan potensi terjadinya magnifikasi. "Kalau tanah itu lunak getaran gempa merambat ke atas dengan gaya yang semakin besar," kata Paulus.

Fenomena magnifikasi itu pernah terjadi di Meksiko yang mengalamai kerusakan parah meski bukan daerah pusat gempa. Ia mengatakan, untuk mengurangi risiko bencana di daerah rawan seperti itu perlu penegakan hukum.

Halaman:

Editor: Fani Ferdiansyah

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X