Jumat, 21 Februari 2020

BMKG: Cuaca Ekstrem Berpotensi Terjadi di Sejumlah Wilayah Jawa Barat

- 12 Januari 2019, 09:47 WIB
Ilustrasi cuaca ekstrem.*/ABC

BANDUNG, (PR). - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat untuk mewaspadai cuaca ekstrem. Beberapa wilayah di Jawa Barat berpeluang diguyur hujan dengan intensitas lebat disertai petir dan angin kencang pada sore hari. 

Hal itu disampaikan Prakirawan cuaca BMKG Kota Bandung, Yuni Yulianti, saat on air di Radio PRFM 107.5 News Channel, Sabtu 12 Januari 2019. "Cuaca ekstrem ini berpotensi terjadi di wilayah Bandung, Bogor, Depok, Sukabumi, Cianjur, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Cirebon, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Sumedang dan Pangandaran," ujar Yuni Yulianti.

Adapun cuaca Bandung Raya pada pagi ini umumnya cerah berawan. Peluang hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang diprediksi terjadi pada sore menjelang malam hari. 

"Suhu udara berkisar 20,1-30 derajat celsius, kelembapan udara 54-92 persen dan angin bertiup dari arah barat daya dengan kecepatan maksimum 20 km perjam," ucap Yuni. 

Sementara itu, suhu udara di Jawa Barat utara berkisar 23-33 derajat celsius, kelembapan udara 50-95 persen. Sedangkan di wilayah Jawa Barat selatan suhu berkisar 19-33 derajat celsius dan kelembapan udara 55-95 persen.

"Angin di daerah Jawa Barat bertiup dari arah barat laut hingga timur laut dengan kecepatan maksimum 30 km perjam," katanya.

Untuk diketahui sebelumnya, cuaca ekstrem cukup berdampak di sektor pariwisata, khususnya wisata alam untuk para wisatawan dengan minat tertentu. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengimbau wisatawan dengan minat tertentu seperti pendaki gudung, untuk berhati-hati karena cuaca ekstrem ini.

Pemerintah meminta wisatawan lebih memperhatikan peraturan-peraturan yang dikeluarkan pengelola lokasi pendakian di Indonesia. Ketua Tim Tourism Crisis Center (TCC) Kemenpar Guntur Sakti mengatakan, curah hujan yang tinggi ditambah angin kencang membuat suhu di permukaan yang lebih tinggi menjadi lebih dingin, termasuk di atas gunung dan jalur pendakian.

Kondisi tersebut pada umumnya mengakibatkan hipotermia, salah satu hal yang bisa dialami pendaki. 

Halaman:

Editor: Fani Ferdiansyah

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X