Minggu, 23 Februari 2020

Ribuan Obat dan Produk Ilegal Dimusnahkan

- 20 Desember 2018, 19:38 WIB
KEPALA BPOM RI Penny K. Lukito (tengah), Ketua Komisi IX DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi, dan Sekretaris Daerah Jawa Barat Iwa Karniwa berbincang saat pemusnahan obat dan makanan ilegal atau tanpa izin edar di Kantor Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan, Jalan Pasteur, Kota Bandung, Kamis, 20 Desember 2018. Produk ilegal yang terdiri dari 2.045 item tersebut didominasi oleh kosmetik dan obat tradisional berbahaya tanpa izin dengan nilai Rp8,1 miliar.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

BANDUNG,(PR).- Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung memusnahkan obat dan makanan ilegal/tanpa izin edar atau yang tidak memenuhi persyaratan keamanan senilai Rp 8,1 miliar di Kantor BBPOM Bandung, Jalan Pasteur, Kota Bandung, Kamis, 20 Desember 2018. Sejumlah 2.045 item produk ilegal tersebut merupakan temuan hasil pengawasan dan penindakan terhadap pelanggaran di bidang obat dan makanan di wilayah Jawa Barat pada tahun 2018.

Temuan tersebut mencakup pada temuan sarana penjualan online tahun 2018 yang didominasi oleh produk kosmetik dan obat tradisional ilegal, dengan rincian 1.071 item (52,35%) kosmetik ilegal dan 576 item (28,15%) obat tradisional ilegal. 

Selain kosmetik dan obat tradisional, produk yang dimusnahkan juga terdiri dari Obat Keras yang diedarkan di sarana ilegal sebanyak 365 item (17,89 %), produk pangan ilegal dan mengandung bahan berbahaya (formalin dan boraks) sebanyak 24  item (1,17 %), dan produk suplemen kesehatan sebanyak 9 item (0.44 %).

Diketahui, produk kosmetik ilegal tersebut mengandung bahan berbahaya seperti merkuri dan rhodamin B, sedangkan obat tradisional mengandung bahan kimia obat (BKO) seperti Sildenafil Sitrat, Deksametason, dan BKO lainnya.

Kepala BBPOM Bandung, I Gusti Ngurah Bagus Kusuma Dewa mengatakan, produk-produk tersebut didapatkan dari 27 Kabupaten Kota di Jabar. Kota Bandung dan Kabupaten Bandung tercatat sebagai daerah dengan temuan yang paling banyak dibandingkan daerah lain. Lainnya, daerah-daerah urban seperti Bekasi, Cirebon dan juga Bogor.

"Makanya di sana (Bogor) menjadi pertimbangan ada kantor BBPOM juga," kata dia pada wartawan.

Wilayah-wilayah yang banyak menjadi temuan tersebut dipengaruhi berbagai aspek. Namun yang paling terlihat yaitu di daerah yang memang pasarnya terbuka. Bahkan, situasi peredaran produk ilegal di kawasan tersebut sudah masuk taraf kompleks.

“Banyak aspek ya, termasuk pendistrisibusian terbuka dari berbagai daerah, contohnya Tanggerang dekat dengan Bogor. Disamping pola konsumsi masyarakat,” katanya.

Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X