Pusat Kucurkan Rp 640 Miliar untuk Citarum Harum, Begini Rincian Programnya

- 5 Desember 2018, 10:15 WIB
WARGA memancing ikan di area pembangunan kolam retensi Cieunteung saat surut di Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung, Selasa 4 Desember 2018. Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Bob Arthur Lombogia, mengatakan sedikitnya dibutuhkan 7 kolam retensi di sekitar Sungai Citarum untuk menanggulangi banjir di wilayah Bandung Selatan.*

Luhut menegaskan, menteri apalagi jajaran di bawahnya, justru harus bersikap layaknya orang tua. Mereka harus mau mendatangi anak-anaknya dan membimbing mereka di lapangan.

Insenerator sampai terowongan air

Salah satu bentuknya adalah dengan tak lagi menggelar rapat-rapat pembahasan Citarum di Jakarta. "Selama ini rapat selalu di Jakarta, ini pertama kalinya digelar di bantaran Citarum. Lebih baik selanjutnya kita terus rapat di lokasi sekalian melihat kondisi riilnya.

Sementara itu Ridwan Kamil, anggaran dari pusat sudah direncanakan untuk beberapa program prioritas. Beberapa di antaranya adalah penyediaan insenerator (alat pembakaran) sampah di 50 titik, penyediaan 10 ekskavator untuk pengerukan sampah dan sedimen serta pembuatan terowongan air untuk mengatasi penyempitan jalur air.

"Untuk insenerator saya harap para Dansektor Satgas Citarum Harum mencari lahan milik BBWS untuk menempatkannya. Jangan lahan milik masyarakat," kata Ridwan

Ridwan menambahkan, pihaknya juga sudah mengajukan anggaran tambahan Ro 200 miliar untuk pembebasan lahan danau retensi guna mengatasi banjir yang masih terjadi. Lahan tersebut bisa berupa satu lahan luas atau beberapa lahan kecil di titik-titik yang krusial untuk menampung luapan air Sungai Citarum saat berlebih.

Bupati Bandung Dadang M. Naser menyambut baik program-program yang sudah direncanakan semua pihak dari pusat hingga daerah. Ia menilai, penanganan secara terpadu akan menjadi solusi efektif perbaikan Citarum yang selama ini belum bisa terwujud.

Menurut Dadang, selama ini penanganan masalah Citarum masih terkesan berjalan sendiri-sendiri. Oleh karena itu masalah inti yang ada masih saja menyisakan pekerjaan rumah yang seolah tak pernah habis.

"Saya mengapresiasi TNI yang kini ikut aktif sebagai ujung tombak penanganan Citarum, karena di Korea saya juga melihat penanganan masalah sungai oleh tentara di garda terdepan sangat efektif. Namun di sana tentara juga tidak berjalan sendiri, tetapi didukung oleh semua stake holder. Jadi sekarang sudah saatnya kita pun bersatu, bekerja sama, jangan lagi ada ego sektoral," kata Dadang.***

Halaman:

Editor: Handri Handriansyah


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X