Kamis, 9 April 2020

H-7 dan H+7 Mudik Lebaran 2018, Angkutan Barang Dilarang Melintas

- 15 Mei 2018, 09:08 WIB
TRUK melintas di pertigaan Jalan Cimareme, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Senin 14 Mei 2018. Hingga tanggal 31 Mei 2018 pukul 06.00-09.00 Wib dan pukul 16.00-19.00 Wib, truk/ kendaraan dengan sumbu 1.2 atau lebih dilarang beroperasi pada kawasan perkotaan Padalarang, Cimareme dan Batujajar, kecuali truk pengangkut BBM, Ternak, Sembako, Hantaran Pos, angkutan sampah, angkutan barang kendaraan dinas, angkutan karyawan, TNI dan Polri.*

BANDUNG, (PR).- Dinas Perhubungan Jawa Barat akan memberlakukan larangan melintas bagi kendaran barang mulai H-7 dan H+7 pada mudik lebaran 2018. Jika masih ditemui adanya kendaraan barang yang melintas pada tanggal yang sudah ditetapkan, maka akan ditindak tegas.

Kecuali untuk kendaraan pengangkut logistik seperti sembako, gas, dan BBM. Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat Dedy Taufik menyampaikan hal tersebut usai memimpin rapat kordinasi kesiapan angkutan lebaran 2018 M/1439 H di Ruang Pertemuan Dinas Perhubungan Jawa Barat, Jalan Sukabumi, Bandung, Senin 14 Mei 2018.

Menurutnya, Dinas Perhubungan Jawa Barat menetapkan kebijakan tersebut untuk memastikan bahwa wilayah kerja Dinas Perhubungan Jawa Barat sudah menetapkan kebijakan lebih awal daripada kebijakan yang dikeluarkan pemerintah pusat terkait pengaturan angkutan lebaran.

“Pemerintah pusat belum memutuskan apakah akan mulai pada H-3 atau H-7. Kita putuskan saja bahwa wilayah perhubungan Jawa Barat menetapkan H-7 dan H+7 tidak ada lagi kendaraan barang yang melintas,” terangnya.

Angkutan lebaran tahun ini kata Dedy disiapkan sedemikian rupa, mulai dari kondisi jalan, fasilitas pendukung, strategi pengaturan lalu lintas, armada, para petugas, dan ketersediaan BBM. Untuk kondisi jalan, ada tiga jenis jalan yang akan digunakan para pemudik jalur darat. Yaitu jalan nasional, jalan provinsi, dan jalan tol.

Waspada jalan nasional belum siap untuk mudik

Jalan nasional kondisinya semua sudah siap digunakan sedangkan untuk beberapa jalan provinsi masih terdapat daerah-daerah yang harus diwaspadai. Seperti di Sukabumi ada jembatan yang pengerjaannya belum selesai, di Gentong ada short cut yang belum selesai. Di kawasan Puncak Cipanas yang pengerjaannya masih belum selesai.

Untuk kawasan-kawasan yang rawan longsor, Dishub kata Dedy sudah berkordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) agar menyiapkan sarana pendukung bila terjadi longsor. Akan dilakukan pula penambahan rambu-rambu portabel yang bersifat larangan, imbauan, dan peringatan. Tambahan lagi petunjuk untuk manajemen rekayasa lalu lintas di Jalan nasional maupun jalan tol.

Untuk jalan nasional yang belum berlampu, dipasang lampu atau alat penerangan jalan (APJ) sedangkan untuk CCTV akan dipasang selama 24 jam. “Dishub juga bekerjasama dengan Jasa Marga akan menyiapkan petugas di rumah sakit-rumah sakit untuk memberikan pelayanan asuransi kesehatan apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” imbuhnya.

Dedy juga menggarisbawahi kawasan-kawasan yang rawan, seperti Cipali, Subang, dan Indramayu. Tingkat kecelakaan lalu-lintas di kawasan Subang dan Indramayu dari tahun ke tahun selalu meningkat. Hal ini terjadi karena di kawasan ini kondisi pengemudi sudah dalam keadaan lelah sehingga rawan terjadi kecelakaan. Untuk Cipali merupakan kawasan tol terbaru sehingga pemudik harus menyiapkan BBM dengan cukup dan e-toll yang cukup pula karena ada beberapa rest area yang jaraknya sangat jauh tetapi tidak menyediakan fasilitas SPBU. Untuk mengaturan lalu lintas, kemungkinan besar akan dilakukan contra flow di beberapa ruas.

Halaman:

Editor: Eriyanti Nurmala Dewi

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X