Korban Jiwa Alkohol Ilegal di Bandung Lebih Tinggi dari Rata-rata Nasional

- 8 Mei 2018, 08:00 WIB
PENELITI dari Center for Indonesian Policy Studies Hizkia Respatiadi memaparkan mengenai peningkatan cukai pada minuman alkohol legal di Indonesia, pada diskusi umum mengenai Alkohol Ilegal, Konsumsi Bawah Umur, dan Risiko Ancamannya pada Kesehatan, di Executive Lounge Unpad, Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Selasa 8 Mei 2018. Pada survei yang dilakukan oleh CIPS di Kota Bandung untuk mengetahui perilaku konsumsi alkohol di kalangan mahasiswa, ditemukan bahwa ancaman bukanlah datang dari minuman beralkohol resmi atau legal melainkan dari alkohol tidak resmi, atau illegal, yang lebih mudah dan lebih murah didapatkan.*

BANDUNG, (PR).- Terdapat satu kematian setiap 615.000 orang per tahunnya akibat komsumsi alkohol ilegal di kawasan Bandung Raya. Jumlah tersebut hampir 5 kali lipat lebih tinggi daripada rata-rata nasional yaitu sebesar satu kematian per 3 juta orang oer tahun.

Hal itu terungkap dalam Peluncuran Riset dan Diskusi Publik "Alkohol Ilegal, Konsumsi Bawah Umur dan Resiko Ancamannya pada Kesehatan", di di Executive Lounge Unpad Bandung, Selasa 8 Mei 2018. Kerja sama antara Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) dan CEDS Universitas Padjajaran Bandung. 

Pembicara dalam diskusi tersebut adalah peniliti CIPS Hizkis Respatiadi dan Sugianto Tandra, Direktur Eksekutif CEDS Unpad Adiatma Y.M Siregar, Kasubdit Pengelolaan Sarana dan Distribusi Kementerian Perdagangan Muh. Anwar Ahmad dan Wakil Pemimpin Redaksi Harian Pikiran Rakyat Erwin Kustiman.

Hiskia dalam paparannya mengungkapkan bahwa volume alkohol yang dikonsumsi orang Indonesia bukanlah permasalahan, karena mereka minum dalam jumlah jauh lebih sedikit dibanding penduduk negara lain. Data Badan Kesehatan Dunia, orang Indonesia hanya mengonsumsi 0,6 liter alkohol murni per kapita per tahun. Lebih rendah daripada rata-rata negara di Asia Tenggara lainnya yang mencapai 3,4 liter atau negara-negara Arab 0,7 liter.

Masalahnya justru pada konsumsi alkohol oplosan yang mengandung bahan tak layak konsumsi seperti obat nyamuk, pil sakit kepala, cairan baterai hingga cairan spiritus Terbukti dari  konsumsi 0,6 liter alkohol, hanya 0,1 liter alkohol legal yang dikonsumsi. 

Bandung Raya, lanjut dia, merupakan daerah yang sering terjadi kematian akibat oplosan. Dilaporkan ada 40 korban tewas yang disebabkan oleh oplosan antara Januari 2008 hingga Desember 2013. Jumlah tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dan mencapai 90 kasus pada Januari 2014 hingga 10 April 2018. 

Tahun 2018 korban tewas meningkat drastis

Total, terdapat 130 kematian dan 55 dirawat karena konsumsi alkohol oplosan. Angka kematian pada tahun 2018 sendiri mencapai 57 kasus, lebih banyak daripada penjumlahan angka kematian total selama lima tahun sebelumnya (2013-2017).

"Sementara pada skala nasional, sejak Januari 2008 hingga 10 April 2018, terdapat 840 kematian dan 521 dirawat akibat konsumsi alkohol ilegal. Bicara konsumsi alkohol legal, sangat kecil sekali dibanding oplosan," tuturnya 

Halaman:

Editor: Ira Vera Tika


Tags

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X