Selasa, 7 April 2020

Lio Genteng, dari Kampung Preman Hingga Sakola Ra’jat

- 18 April 2018, 14:59 WIB

Di SR, anak-anak kampung Lio Genteng mengikuti kegiatan yang berbeda setiap harinya. Di suatu sore, mereka belajar bahasa Arab, bahasa Sunda, dan menulis ejaan lama. Sore berikutnya giliran keterampilan fotografi dan film. Keterampilan berolah raga, khususnya sepak bola, juga masuk dalam ‘kurikulum’ di setiap akhir pekan.  

Nama-nama ‘kelas’ di SR mengambil inspirasi dari tokoh-tokoh sejarah. Untuk kelas bahasa, misalnya, mereka meminjam nama Lesminingrat, salah satu tokoh pelopor kemajuan wanita Sunda. Untuk kelas seni budaya, dipakai nama Asmara Hadi. Menantu Sukarno dan Inggit ini merupakan sastrawan-wartawan yang aktif dalam pergerakan. Waulwi Saelan, nama mantan ajudan Sukarno, digunakan untuk kelas olah raga.

“Kami percaya, pengenalan sejarah dan seni budaya bakal membentuk karakter kita. Apalagi jika itu dimulai sejak dini,” ucap Gatot yang aktif berkegiatan di komunitas nirlaba Lokra (Kelompok Anak Rakyat).

Menghidupi SR selama satu tahun, Gatot dan Sandi menggandeng banyak pihak, terutama para anak muda yang datang sebagai relawan pengajar. Keduanya cukup bahagia jika kegiatan-kegiatan SR selama ini memberikan sumbangsih, sekecil apa pun, bagi masyarakat Lio Genteng.  

“Masih ada anak-anak yang nongkrong seharian di warnet, iya. Masih ada anak-anak putus sekolah, iya. Tapi semakin banyak anak-anak kami yang sekarang aktif mengikuti kegiatan-kegiatan positif di SR,” tutur Ketua RW 05 Kelurahan Nyengseret Sumiarsih.

Tercatat sekitar 60 anak terlibat aktif menjadi peserta didik di SR. Lucky Hidayat (11), salah satu di antaranya. Murid kelas 4 SD Negeri 249 Astanaanyar ini mengaku sangat senang mengikuti seluruh kegiatan di rumah belajar ini, mulai dari kelas bahasa hingga kunjungan-kunjungan ke museum.

Lucky saat ini tinggal bersama ibu dan dua saudaranya. Bapaknya telah tiada. Ada jalan yang panjang dan terjal menghampar di hadapan bocah lelaki yang senang belajar bahasa Arab ini, namun ia tak patah harapan.

“Saya ingin bisa sekolah tinggi,” kata Lucky. “Cita-cita saya menjadi dokter hewan.”***

Halaman:

Editor: Tri Joko Her Riadi

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X