Sabtu, 4 April 2020

Lio Genteng, dari Kampung Preman Hingga Sakola Ra’jat

- 18 April 2018, 14:59 WIB

LIO Genteng telanjur terkenal sebagai ‘kampung preman’ yang dihuni pelaku kriminal, pemuda mabuk, dan anak-anak putus sekolah. Pendidikan lah yang perlahan-lahan mengubah wajahnya.

Tersembunyi puluhan meter di balik riuhnya pasar loak Astanaanyar, Lio Genteng secara administratif merupakan bagian dari RW 05 Kelurahan Nyengseret, Kota Bandung. Ada lebih dari 300 keluarga tinggal di rumah-rumah yang berdiri saling berimpitan.

Kepadatan Lio Genteng menyisakan kelak-kelok gang sempit. Sebuah selokan air, yang kotor oleh sampah, membelah kampung dengan baunya yang menyengat. Puluhan potong pakaian bergelantungan di kawat jemuran yang di tembok rumah.

Sebagian besar warga kampung masuk dalam golongan ekonomi menengah ke bawah. Mereka bertahan hidup dengan bekerja sebagai pedagang kaki lima (PKL), buruh, dan pekerja serabutan. Keterbatasan ekonomi ini juga yang menjadi salah satu penyebab gagalnya lebih dari 20 anak melanjutkan sekolah ke jenjang SMP.

“Saya senang belajar menari. Kalau besar nanti, saya ingin jadi penari,” kata Silma Maulida (10) penuh percaya diri.

loading...

Silma merupakan murid kelas kelas 3 SD Negeri 249 Astanaanyar. Kedua orangtuanya bekerja sebagai pedagang. Rabu 18 April 2018 pagi itu, bersama pulujan temannya, dia merayakan upacara peringatan Konferensi Asia-Afrika (KAA) ke-63 di halaman aula RW.

Silma sejak satu tahun lalu juga menjadi salah satu anak didik Sakola Ra’jat (SR) Iboe Inggit Garnasih. Rumah belajar inilah yang memberi kesempatan pada Silma dan teman-teman sepermainannya di Lio Genteng untuk belajar menari sepulang dari sekolah. Rumah belajar ini juga yang menggelar upacara tidak biasa pagi itu.

Membentuk Karakter

Gatot mendirikan SR Iboe Inggit Garnasih bersama Sandi, warga asli Lio Genteng. Sejak awal kedua anak muda ini menjadikan SR sebagai rumah belajar bersama yang mementingkan pembentukan karakter anak lewat pengenalan sejarah dan seni-budaya. ‘Kurikulum’ disusun sedemikian rupa untuk mewadahi cita-cita seperti itu.

Halaman:

Editor: Tri Joko Her Riadi

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X