Gagal Panen, Petani Kopi di Bandung Barat Beralih ke Hortikultura

- 4 September 2017, 12:16 WIB

NGAMPRAH, (PR).- Para petani kopi di Kabupaten Bandung Barat gagal panen pada musim ini. Akibatnya, mereka beralih menanam tanaman hortikultura lantaran harga kopi stagnan.

Hal itu dikatakan Ketua Asosiasi Petani Kopi Kabupaten Bandung Barat, Kurnia di Lembang, Senin 4 September 2017. Menurut dia, pada musim ini, 90 persen tanaman kopi gagal dipanen.

"Petani hanya memanen 10 persen saja. Ya, bisa dibilang gagal panen. Ini akibat faktor cuaca yang tak bisa dihindari," ujarnya.

Kurnia mengungkapkan, di kebun kopi miliknya seluas 10 hektare, dia hanya memanen 1,5 ton biji kopi dalam bentuk ceri. Padahal dalam kondisi normal, ia bisa memanen hingga 27 ton.

Dengan kondisi itu, ia mengalami kerugian ratusan juta rupiah. Sebab, ia bisa menjual 1 kilogram kopi dalam bentuk greenbean hingga Rp 65.000. Kopi itu ia jual ke berbagai daerah bahkan luar negeri melalui eksportir.

Kurnia cukup beruntung lantaran ia masih punya akses untuk menjual produk kopinya ke pasar-pasar domestik dalam bentuk bubuk kopi. Per satu kilogramnya, ia menjual seharga Rp 250.000.

Namun, petani kopi yang tak punya akses tersebut hanya bisa gigit jari. Tak ada yang bisa mereka petik dari kopi yang ditanam sejak awal musim.

"Musim panen ini berlangsung sejak Mei lalu hingga sekarang. Namun, pada rentang waktu itu banyak terjadi hujan, sehingga kopi tak bisa dipanen. Sebab, minimal harus ada kemarau 1 bulanan agar kopi bisa dipanen," kata Kurnia.

Meski demikian, lanjut dia, harga kopi saat ini cenderung stagnan. Hal itu disebabkan harga kopi mengikuti harga internasional. Harga 1 kg kopi berbentuk ceri berkisar Rp 8.000-Rp 10.000.

Halaman:

Editor: Cecep Wijaya Sari


Tags

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X