Penemuan Fosil Buktikan Cekungan Bandung Sebagai Kawasan Habitat Satwa Zaman Dulu?

- 22 Oktober 2021, 21:30 WIB
Ilustrasi fosil.
Ilustrasi fosil. /Pixabay/PublicDomainPictures

PIKIRAN RAKYAT - Penemuan fosil hewan purba di Saguling, Kabupaten Bandung Barat patut diduga menjadi bukti Cekungan Bandung merupakan kawasan habitat satwa-satwa tempo dulu. Penemuan fosil binatang pun bukanl kali pertama di kawasan itu. Bahkan, sejumlah nama binatang dilekatkan pada toponimi atau nama tempat di wilayahnya.

Dalam buku Sejarah Daerah Jawa Barat umpamanya, penemuan fosil-fosil binatang berupa antilope, kuda nil, badak dan sejenisnya tercatat ditemukan dari lapisan tanah Sungai Citarum di sebelah barat Kota Cimahi. Diperkirakan, fosil-fosil tersebut merupakan peninggalan masa Mesolitik atau zaman Batu Tengahan. 

Catatan senada dikemukakan T Bachtiar, Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung dalam sebuah tulisannya di Pikiran Rakyat.  Bachtiar menyodorkan hasil penelitian Stehn dan Umbgrove pada 1929 di gawir Citarum yang kini terendam Danau PLTA Saguling. Penelitian itu melaporkan adanya fosil vertebrata besar seperti badak, gajah, kerbau, dan rusa. Penelitian RW van Bemmelen dan Th HF Klompe yang dikutip JA Katili setali tiga uang.

Mereka menyatakan, di Cekungan Bandung terdapat hippopotamus atau kuda nil melalui temuan fosil vertebrata besar itu yang mati lemas terkubur material letusan Gunung Sunda. Terkait keberadaan badak, Bachtiar merujuk pada catatan orang-orang Eropa yang menyebutkan badak masih ada di Bandung hingga tahun 1700-an. Masyarakat kala itu masih menyaksikan jejak badak walaupun hanya tinggal tempat berkubangnya.

Baca Juga: Soal Pinjol Ilegal, Kabareskrim Polri Minta Warga Berani Lapor ke Polisi

Toponimi

Keberadaan badak pun melekat pada sejumlah nama tempat di Bandung. 

"Oleh karena itu, jangan heran bila banyak nama tempat yang memakai kata badak, seperti Cibadak, Rancabadak, Kawah Pangguyanganbadak, Rawabadak, Lapangan Badakputih, dan lain-lain," tulis Bachtiar. 

Istilah rawa, ranca pun mengacu pada wilayah berair di wilayah bekas Bandung purba.

Badak juga lekat dalam perbendaharaan kata dalam bahasa Sunda, seperti ngaladog atau bermain jauh. Ladog, tutur Bachtiar, merupakan nama lain badak. Terdapat pula istilah, ngabadak (ngabaladah, mencangkul membuka sawah), hamperubadak, ceulibadak, letahbadak (nama tumbuhan), badakheuay (arsitektur bangunan sonder wuwungan), heuaybadak (lubang asap di atas dapur), babadak (irisan bambu besar yang dianyam membentuk bronjong). Terdapat pula istilah sigah badak Cihea yang bermakna perilaku orang yang jalannya menyeruduk.

Halaman:

Editor: Abdul Muhaemin


Tags

Artikel Pilihan

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X