Gedung-gedung Ini Saksi Sejarah Freemasonry di Kota Bandung Tempo Dulu

- 4 September 2017, 05:00 WIB

LOGEWEG ialah nama sebuah ruas jalan di Bandung tempo dulu. Kalakian, kita dapat lihat wujud panjangnya terbentang dari perempatan  Jalan Embong-Braga sampai perempatan Aceh-Wastukancana. Nama jalan tersebut tidak terlepas dari bangunan yang jadi ikon saat itu, loji Freemasonry di ujung jalan raya.

Loji atau tempat berkumpulnya kelompok teosofi Freemasonry ini disebut Loji Sint Jan. Di lokasi loji Sint Jan kala itu, kini berdiri Masjid Al-Ukhuwah.

Kelompok persaudaraan yang kerap disebut misterius dan tertutup rupanya terdiri dari tokoh-tokoh yang sangat berbaur di masyarakat. Mereka memiliki andil dalam kegiatan sosial, budaya, dan pendidikan Bandung tempo dulu.

Untuk flashback ke masa lalu, kita tak perlu mesin waktu. Bangunan bersejarah yang memiliki kaitan dengan Freemasonry kala itu sebagian besar masih memiliki muka asli dan belum runtuh di Kota Bandung. Ayo kita susuri.

Kweekschool

Mengutip M Ryzki Wiryawan dalam buku "Okultisme di Bandung Doeloe", sebelum di loji Sint Jan, orang Mason beraktivitas di gedung ini hingga tahun 1884, lalu pindah ke sebuah gedung di Braga. Gedung ini digunakan untuk Mapolrestabes Kota Bandung sekarang.

loading...

Anggota loji menginisiasi perpustakaan umum De Openbare bibliotheek van Bandoeng di sini. Sempat juga buku-buku perpustakaan yang mencapai jumlah 2.500 koleksi pindah ke pusat kota, dan terakhir ke loji Sint Jan.

Loji Sint Jan

Loji ini termasuk yang paling aktif di Hindia Belanda, tulis Ryzki. Laporan majalah The Theosophist 1910, Sint Jan jadi tuan rumah kongres teosofi, yang dihadiri 60 anggota dari seluruh penjuru Jawa.

Namun, bangunan asli loji telah diratakan dengan tanah pada 1960-an. Sebelum berdiri Al-Ukhuwah, beroperasi Graha Pancasila yang disewakan untuk tempat resepsi pernikahan.



Bangunan awal loji pada 1901 berdesain empire, dengan logo mata satu di atas gedung. Simbol mata ini sangat kuno dan berhubungan dengan sistem kepercayaan primitif yang menyembah dewa surya.  Pada 1920, Sint Jan diperluas dan simbol mata diganti dengan “siku-siku dan jangka”. Menurut Albert G Mackey, simbol itu menandakan moralitas dan ketaatan pekerjaan.

Halaman:

Editor: Gita Pratiwi A


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X