Selasa, 25 Februari 2020

Karya Seni Indah Ini Rupanya Terbuat dari Kain Pel

- 6 Agustus 2017, 13:16 WIB
ERWIN Windu Pranata menjelaskan karyanya yang terbuat dari barang-barang sehari-hari di Lawangwangi Creative Space, Jalan Dagogiri, Lembang, Kabupaten Bandung Barat pekan lalu.*

BARANG-barang seperti handuk, lap pel, hingga kardus yang biasa ditemukan di sekitar kita sekilas tampak tak berarti. Namun, di tangan seniman Erwin Windu Pranata, barang-barang tersebut bisa disulap menjadi karya seni yang bernilai tinggi.

Dalam salah satu karyanya, seniman dari Universitas Pendidikan Indonesia ini memodifikasi dan menata handuk dan kain pel sedemikian rupa, sehingga membentuk tumpeng dengan warna-warna mencolok. Untuk menambah kesan monumental, sorot lampu neon ditambahkan di bagian tengah dan dari bawah tumpeng tersebut.

“Benda-benda ini mudah ditemukan di mana saja. Namun, kebanyakan orang menilai itu sepele. Dari situ, saya mencoba menyusun dan memaknai kembali ben da-benda tersebut agar lebih bernilai,” ujar Erwin saat mempresentasikan karyanya di Lawangwangi Creative Space, Jalan Dagogiri, Lembang pekan lalu.

Erwin mengaku terinspirasi dari lingkungan rumahnya sendiri. Betapa banyak dia menemukan benda-benda yang luput dari perhatian orang. Sebut saja misalnya, kardus bekas, handuk, kawat pegas, tumpukan lipatan baju, dan lain-lain yang memang tampak biasa-biasa saja. Namun baginya, benda-benda sepele itu terlalu berharga untuk diabaikan begitu saja.

Dengan menyelami nilai dan makna sesuatu, ia tergerak untuk membuat karya. Dengan memahami makna tersebut, menurut dia, sebenarnya siapa saja bisa membuat karya serupa. “Dengan karya ini, saya ingin mengatakan bahwa hidup ini sangat berharga dan istimewa,” ucap pemuda asli Bandung ini.

Bernilai tinggi

Pemilik Lawangwangi Creative Space, Andonowati mengungkapkan, karya Erwin terbilang unik untuk jenis seni patung kontemporer. Sebab, karya tersebut mengangkat hal-hal yang biasa menjadi bernilai tinggi.

“Karya Erwin ini membuat sesuatu yang imperfect (tidak sempurna) menjadi perfect (sempurna). Ia membuat karya dengan mengangkat hal-hal yang biasa ditemui sehari-hari,” ujarnya.

Halaman:

Editor: Cecep Wijaya Sari

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X