Minggu, 5 April 2020

#KlipingPR Preman Terminal Kebon Kalapa Tewas Ditembak

- 9 Juli 2017, 08:17 WIB

9 Juli 1983. Terminal Abdul Muis di Kota Bandung biasa disebut dengan Terminal Kebon Kalapa. Terminalnya kini masih ada meski menciut menjadi tempat pemberhentian angkutan kota di pertengahan Jalan Dewi Sartika, sebelah selatan Alun-alun Bandung. Lahan terminal itu kalah kuat oleh keberadaan sebuah pusat perbelanjaan ITC Kebon Kalapa yang kini juga sudah terlihat lesu.

Terminal Kebon Kalapa dulu terkenal sebagai tempat yang cukup rawan dari sisi kejahatan jalanan. Dipercaya, preman atau juga disebut jeger, yang menguasai Kebon Kalapa adalah preman paling disegani saat itu di Kota Bandung. Dulu, terminal yang berada tepat di pusat kota itu itu hidup 24 jam dengan dukungan pasar tradisional, sekolah, hingga tempat prostitusi yang tak jauh dari sana.

Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 9 Juli 1983, 34 tahun silam, memuat berita agak besar di halaman 2 rubrik Bandung Raya. Isinya tentang jeger (preman) Kebon Kalapa yang ditembak mati oleh polisi. Nama preman itu adalah Banu (34), seorang residivis, yang telah lama meresahkan masyarakat di terminal itu.

Banu ditembak mati setelah terlibat baku hantam dengan petugas yang akan menangkapnya. Ia ditembak setelah mencoba merebut senjata petugas saat pergumulan itu.

Peristiwanya sendiri terjadi sekitar pukul 3.00 WIB, di Sukamiskin, Ujungberung, Bandung. Ia memang disergap oleh tim khusus yang memburu Banu hingga ke rumahnya di Sukamiskin. Ada satu regu dari polisi dan TNI yang bekerja sama mengamankan Banu. Dalam penangkapan itu, petugas bahkan mengamankan sejumlah senjata api yang diduga dimiliki Banu di rumahnya. Ada sepucuk pistol revolver Colt 32, senapan angin, dan senbilah golok.

Upaya penangkapan Banu dilakukan secara diam-diam. Namun, ternyata Banu menyadari kedatangan petugas di rumahnya dan ia tiba-tiba "hilang". Namun, dengan bantuan pelacak, penjahat ini ternyata ditemukan tengah bersembunyi di atap-atap rumahnya.

Semula petugas berniat untuk menangkap Banu hidup-hidup. Namun, di luar perkiraan mereka, Banu malah menyerang balik petugas hingga berupaya merebut senapan AR 16 milik anggota Brimob yang ikut dalam penyergapan itu. Timah panas petugas akhirnya meluncur melalui dada Banu hingga ia roboh.

Dari catatan polisi, Banu ternyata masuk daftar hitam mereka. Pada tahun 1964, ia terlibat dalam pembunuhan anggota Polri Dodiklat Tegallega Bandung. Ia juga terlibat dalam upaya penodongan dalam kendaraan umum, sejumlah kasus pemerasan, pembacokan, hingga berbagai kasus pencurian di Kota dan Kabupaten Bandung.***


Editor: Deni Yudiawan

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X