Rabu, 3 Juni 2020

Misteri Wolff Schoemaker di Masjid Cipaganti

- 8 Mei 2017, 02:50 WIB

BANDUNG, (PR).- Masjid Cipaganti terletak di Jalan Jalan R.A.A. Wiranatakusumah, dulu bernama Jalan Cipaganti, No. 85. Saat zaman Belanda, Jalan Cipaganti bernama Nylandweg. Saat awal berdiri, Masjid Cipaganti bernama Masjid Kaum Cipaganti. Nama Charles Proper Wolff Schoemaker melekat pada masjid itu.

Masjid ini termasuk masjid tua di Kota Bandung tetapi masih terlihat sangat kokoh. Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Cipaganti dilakukan pada 7 Februari 1933 (11 Syawal 1351 Hijriah) dan diresmikan pada 27 Januari 1934. Masjid ini terletak di atas lahan seluas 2.675 meter persegi.

Keindahan arsiteknya merupakan campuran antara gaya Eropa dan kebudayaan tradisional Jawa. Hal ini tergambar dari atap yang berbentuk tajug tumpang dua, serta pada kaligrafi yang terdapat di mihrab dan mimbar utama, lampu gantung, tembok ukir, dan gerbang utama. Gaya Eropa terkandung pada pemakaian kuda-kuda segitiga penyangga atap. Posisi masjid yang terletak di "tusuk sate" antara Jalan Cipaganti dan Jalan Sastra, serta pepohonan yang terdapat di sepanjang jalan yang seolah menjadi bingkai masjid jika dilihat dari Jalan Sastra. 

Ini merupakan ciri khas Masjid Cipaganti yang jarang ditemui di bangunan masjid lainnya di Pulau Jawa. Sejak awal pendiriannya, Masjid Cipaganti telah menjadi cikal bakal penyebaran dan pusat studi Islam di kawasan Bandung utara.

Schoemaker masuk Islam

Menariknya, dari keindahan yang tergambar itu ada misteri yang tersisa tentang Schoemaker, sang arsitek. Seperti diketahui, Schoemaker adalah arsitek yang membangun sebagian besar gedung bersejarah bergaya art deco di Kota Bandung. Ia juga dikenal sebagai ruhnya Bandung tempo doeloe. 

Pada beberapa literatur yang dibuat oleh pengurus Dewan Kesejahteraan Masjid, nama Schoemaker ditulis dengan nama Profesor Kemal C.P. Wolff Schoemaker. Banyak yang berpendapat bahwa nama Kemal merupakan isyarat bahwa Schoemaker sebetulnya adalah Belanda yang telah memeluk agama Islam.

Meski demikian, sebenarnya belum ada literatur lain yang membahasnya. Pengamat sejarah Bandung Ridwan Hutagalung mengungkapkan itu dalam situs Komunitas Aleut. Menurut dia, wajar saja banyak silang pendapat tentang sosok Wolff Schoemaker karena informasi tentang dia sangat minim. Ridwan mengupas informasi Wolff Schoemaker dari buku "Tropical Modernity; The Life & Work of C.P. Wolff Schoemaker" karya C.J. van Dullemen ditambah dengan beberapa buku lain sebagai bahan pendukung. 

Tulisan Ridwan Hutagalung tentang C.P. Wolff Schoemaker:

Charles Prosper Wolff Schoemaker dilahirkan di Banyubiru, Jawa Tengah, tahun 1882. Ia menjalani pendidikan di Akademi Militer di Belanda hingga lulus dengan pangkat letnan zeni militer. Sekembalinya di Hindia Belanda pada tahun 1905, Wolff Schoemaker bekerja sebagai arsitek militer untuk pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1911, Wolff keluar dari dinas militer dan dua tahun kemudian bekerja sebagai insinyur teknik pada Dienst Burgerlijk Openbare Werken atau Dinas Pekerjaan Umum Batavia. Saat menjabat sebagai direktur di Gemeentewerken Batavia, diketahui ia menjadi seorang Muslim. Tidak ada informasi mengenai faktor apa yang menyebabkannya memutuskan berpindah agama saat itu.

Halaman:

Editor: Deni Yudiawan


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X