Hati-hati COD di Tempat Sepi dengan Kakek Ini

- 19 Desember 2016, 13:05 WIB
Kasatreskrim Polres Bandung Niko M. Adi Putra menggelar ekspose dalam kasus pencurian dengan kekerasan di Mapolres Bandung, Senin 19 Desember 2016 dengan beberapa mobil dan barang bukti lainnya yang merupakan hasil kejahatan pelaku. Tiga dari lima pelaku, terpaksa dilumpuhkan menggunakan timah panas karena berusaha melarikan diri dari kejaran polisi saat hendak ditangkap. Modus operandi yang dilakukan pelaku yakni dengan cara menawarkan sesuatu barang melalui media sosial seperti facebook.
Kasatreskrim Polres Bandung Niko M. Adi Putra menggelar ekspose dalam kasus pencurian dengan kekerasan di Mapolres Bandung, Senin 19 Desember 2016 dengan beberapa mobil dan barang bukti lainnya yang merupakan hasil kejahatan pelaku. Tiga dari lima pelaku, terpaksa dilumpuhkan menggunakan timah panas karena berusaha melarikan diri dari kejaran polisi saat hendak ditangkap. Modus operandi yang dilakukan pelaku yakni dengan cara menawarkan sesuatu barang melalui media sosial seperti facebook.

SOREANG, (PR).- Meski usianya menginjak 59 tahun, kakek Iyus terpaksa harus berurusan dengan polisi. Warga Kampung Cangkudu, Desa Cangkudu, Kecamatan Balajara, Kabupaten Tangerang ini, menjadi salah satu otak kriminal dalam komplotan pencurian dengan kekerasan. Tak tanggung-tanggung, Iyus bersama 4 anggota komplotannya berinisial AH (51), HY (42), UE (37), dan BP (40) itu menggasak barang berharga milik korban dengan modus operandi berpura-pura menjual barang melalui media sosial. Bahkan, komplotan pencuri ini pun kerap melakukan aksinya hingga ke luar provinsi. Tentunya, dengan terbongkarnya modus kejahatan yang memanfaatkan teknologi ini, bukan hanya sekali terjadi. Banyak kasus kejahatan yang dilakukan pelaku kriminal berawal dari media sosial atau internet. Hal ini pun perlu diwaspadai masyarakat yang saat ini kerap menggunakan media sosial untuk mencari sesuatu barang. Berdasarkan berita acara pemeriksaan kepada pelaku, komplotan ini mempunyai peran masing-masing dalam tindak kriminalnya. Hal itu dilakukan pelaku untuk memudahkan mencari calon korban. Anggota komplotannya itu di antaranya berperan sebagai bandar yang merupakan otak pelaku, pencari calon korban, eksekutor korban, pengintai, peluncur, dan penghubung kepada calon korban. Dari tindak kejahatannya, kelompok ini berhasil menggasak 4 unit mobil mewah, 1 sepeda motor, 16 telfon genggam, puluhan buku tabungan, dan 2 pak uang palsu pecahan Rp. 100.000. Tindakan kejahatannya itu telah pelaku lakoni sejak 2011 silam. Beberapa barang bukti lainnya yang disita polisi di antaranya puluhan kartu ATM, buku tabungan, dan puluhan telfon genggam hasil kejahatan. Kasatreskrim Polres Bandung Niko M. Adi Putra di Mapolres Bandung, Senin 19 Desember 2016 mengungkapkan, terbongkarmya pencurian ini diawali dari laporan masyarakat yang mengaku telah dirampok pelaku di wilayah hukum Polres Bandung. Mendapat laporan tersebut, polisi pun melakukan pengintaian dan akhirnya meringkus para pelaku. Polisi terpaksa melumpuhkan 3 tersangka dengan timah panas karena berusaha melarikan diri dari kejaran polisi saat hendak ditangkap. Dalam tindak kejahatannya, lanjut Niko, pelaku menawarkan barang melalui media sosial seperti facebook dan media sosial lainnya. Pelaku mengiming-imingi barang yang dijual itu merupakan barang dari bea cukai atau barang sisa ekspor sehingga harga barang pun lebih murah dibandingkan dengan harga normal. “Struktur kelompok curas ini tergolong rapi. Kelima pelaku ini mempunyai peran tersendiri. Modusnya menawarkan sesuatu barang melalui online. Pelaku melakukan jual-beli barang kemudian si korban diarahkan membawa uang tunai ke lokasi yang disepakati,” kata Niko. Biasanya, lanjut Niko, lokasi yang dipilih pelaku untuk melakukan transaksi dengan calon korban itu di lokasi yang jauh dari keramaian. Dengan demikian, para pelaku ini dengan leluasa menggasak seluruh barang berharga milik korban. Di lokasi tersebut, tersangka sudah menyiapkan anggota kelompoknya untuk melakukan curas dengan modus berpura-pura menjadi anggota kepolisian yang melakukan razia narkotika. “Eksekutor yang mengaku anggota polisi ini langsung menodongkan senjata tajam kepada korban. Korban langsung diikat dan dipukuli. Barang-barang milik korban langsung dirampas seluruhnya,” tutur Niko. Disinggung mengenai dugaan adanya penadah dari barang-barang hasil kejahatan yang dijual pelaku, pihaknya masih melakukan pengembangan kasus. Atas tindakan yang dilakukan tersangka, polisi menjerat para pelaku dengan pasal 365 KUHPidana dengan ancaman kurungan penjara selama 12 tahun. Niko mengimbau masyarakat yang kerap menggunakan sosial media untuk mencari sesuatu barang, dianjurkan untuk tidak langsung percaya tawaran barang yang tidak pernah ditunjukan barangnya secara fisik. Biasanya dalam kejahatan komplotan pelaku ini, si korban malah diarahkan untuk menunjukan uangnya terlebih dahulu.***

Editor: Ecep Sukirman


Tags

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X