Senin, 27 Januari 2020

50% Kasus Bencana Gerakan Tanah Selama 2016 Terjadi di Jabar

- 11 November 2016, 00:41 WIB

Bandung, (PR).– Banyaknya bencana longsor dan banjir menunjukkan Jawa Barat merupakan daerah dengan risiko bencana tinggi. Salah satu bencana yang banyak menelan korban jiwa diakibatkan oleh gerakan tanah. Dari 174 bencana gerakan tanah di Indonesia pada 2016, 87 kasus terjadi di Jawa Barat. Kepala Badan Geologi Ego Syahrial mengatakan, gerakan tanah di Jawa Barat mudah terjadi karena morfologi tanah yang berkontur serta gembur sehingga sensitif terhadap air. Kondisi tersebut diperparah dengan terus berkurangnya daerah serapan air, khususnya di dataran-dataran tinggi. “Gerakan tanah ini yang benar-benar paling membunuh. Gerakan tanah ini terus terjadi. Dari 2005 sampai 2015, lebih dari 3011 orang meninggal dunia karena gerakan tanah di seluruh Indonesia, dan 40% korban di Jawa Barat,” tutur Ego, di Kantor Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), kemarin. Dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat, beberapa daerah tercatat sebagai daerah rawan gerakan tanah. Menurut survei PVMBG, daerah yang sangat rawan ialah Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi. Mengantisipasi bencana gerakan tanah, Badan Geologi melalui PVMBG meluncurkan “Buku Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah.” Buku ini berisi peta dan informasi umum potensi gerakan tanah dan banjir bandang di tiap kecamatan se-Indonesia. Informasi dari buku tersebut dapat digunakan pemerintah daerah untuk mengantisipasi kemungkinan bencana di daerahnya. Buku Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah dapat diunduh di situs www.vsi.esdm.go.id. Peta potensi bencana akan diperbaharui setiap bulan agar tiap daerah dapat mempelajari perubahan kondisi tanah di daerahnya. Dalam situs ini pun terdapat aplikasi Multiplatform Application for Geohazard Mitigation and Assessment in Indonesia (MAGMA Indonesia). MAGMA Indonesia berisi informasi kebencanaan geologi (gunung api, gempa bumi, tsunami dan gerakan tanah) yang disajikan secara aktual. Aplikasi ini dapat diakses melalui semua platform, baik melalui komputer maupun telepon pintar. Ego menjelaskan, pemerintah harus lebih gencar untuk turun ke masyarakat dalam melakukan sosialisasi mitigasi bencana. Dengan ditunjang oleh data dari buku, pemerintah daerah dapat melakukan antisipasi lebih dini dalam mitigasi. Diharapkan dengan program ini, dampak dari bencana dapat diminimalisir. (Wibi)***


Editor: Administrator

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X