Kamis, 20 Februari 2020

Semakin Betah di Pasar

- 10 Maret 2016, 00:34 WIB
PEDAGANG memainkan musik tradisional untuk menghibur warga Pasar Cihapit, Bandung.*

BANDUNG, (PRLM).- Tidak ingin hanya jago teori, anak-anak muda yang tengah menyelesaikan studinya di Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB terjun ke Pasar Cihapit mempraktikkan ilmunya. Mereka menyusun strategi memakmurkan salah satu pasar tertua di Kota Bandung itu. Alunan kecapi dan suling terdengar hingga ke sudut-sudut Pasar Cihapit. Musik itu dimainkan langsung dua lelaki berbaju pangsi hitam. Bersila di atas meja dagang yang sedang tidak digunakan, keduanya beraksi ditemani satu orang yang bertugas ngawih. Tembang-tembang Sunda itu membuat suasana Pasar Cihapit jadi meriah. Pembeli dan pedagang merasa terhibur dengan kehadiran mereka. "Wah kalau siang nih pedagang pada ikutan joged. Kalau tidak bisa ninggalin dagangan ya joged aja di kios masing-masing," kata salah seorang pedagang, Neneng (52). Suasana kesundaan itu sengaja dihidupkan setiap rabu di Pasar Cihapit. Sesuai dengan Perda Kota Bandung yang mengangkat tema Sunda setiap Rabu lewat Rebu Nyunda. Pedagang di Pasar Cihapit pun demikian. Setiap Rabu, bapak-bapak mengenakan pangsi warna hitam. Sementara ibu-ibunya memakai kebaya. Tampilan itu rupanya mengubah wajah pasar. Pasar tradisional tidak selalu berwajah seadanya. Pedagang yang biasanya tidak memperhatikan penampilan, kini tampil beda. Setidaknya setiap Rabu. Bukan hanya baju pedagang yang berubah. Pasar Cihapit juga bersolek. Gang sempit yang jadi pintu masuk Pasar Cihapit kini semarak dengan mural berwarna cerah. Lapak-lapak pedagang berjejer rapi di satu sisinya. Rak yang digunakan memajang barang dagangan diberi sentuhan seni. Atapnya yang dulu dibuat dari terpal biasa, kini diselimuti kain warna-warni. Cantik! "Kalau begini kan pembeli senang. Nggak becek, nggak kotor. Penghasilan juga naik,' kata Eha (42), salah seorang pedagang buah. Jika sebelumnya ia paling tingi membawa pulang uang Rp 1 juta setiap hari, sekarang meningkat menjadi Rp 1,5 juta. Perbaikan pintu masuk dan berbagai aktivitas baru di Pasar Cihapit ini digagas mahasiswa SBM ITB. Tadinya, mereka ditugasi dosen untuk mendampingi usaha kecil menengah. Mereka memilih Pasar Cihapit sebagai obyek studinya. "Kami bersama dosen bertemu dengan paguyuban pedagang dan Kepala Pasar Cihapit. Mereka menyambut baik. Awalnya kami membuat program Baper Cihapit, bukan bawa perasaan tapi bawa perubahan," kata Rhika Hasrul, Koordinator program Baper Cihapit. Program ini yang berhasil mempercantik pintu masuk Pasar Cihapit. Tidak jarang orang berfoto dan mengunggahnya ke media sosial. Dari sana perubahan Cihapit tersebar. Atas bantuan sponsor dan donatur, mereka mewujudkan perubahan itu. Tidak ingin berhenti, akhirnya program itu dilanjutkan oleh mahasiswa angkatan selanjutnya dengan nama Apit Cihapit. Sederet program disiapkan untuk membuat Pasar Cihapit punya magnet bagi pembeli. Tidak hanya kualitas produknya tetapi juga tampilan yang bersih dan menarik. Tampilan baru Cihapit itu rupanya dirasakan manfaatnya oleh pedagang. Mereka membuka tokonya lebih lama. "Jadi betah di pasar. Pembelinya jadi banyak. Dulu jam 11 sudah tutup. Sekarang sampai jam 2 bahkan jam 3," ujar Neneng. (Catur Ratna Wulandari/A-209)***


Editor: Catur Ratna Wulandari

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X