Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Cerah berawan, 30.1 ° C

Tatang, Tunanetra yang Ubah Kandang Ayam Jadi SLB di Bandung

Endah Asih Lestari
TATANG (50) pendiri SLB ABCD di Gang Faqih, Jalan Holis, RT 2, RW 9, Kelurahan Babakan, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, Jumat 8 November 2019. Tatang yang tunanetra mendirikan SLB ABCD di rumahnya pada 2003 dan hingga saat ini masih berstatus guru honorer.*/ENDAH ASIH LESTARI/PR
TATANG (50) pendiri SLB ABCD di Gang Faqih, Jalan Holis, RT 2, RW 9, Kelurahan Babakan, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, Jumat 8 November 2019. Tatang yang tunanetra mendirikan SLB ABCD di rumahnya pada 2003 dan hingga saat ini masih berstatus guru honorer.*/ENDAH ASIH LESTARI/PR

PRIA tunanetra berusia 50 tahun, Tatang, baru saja selesai mengajar empat anak tunanetra di Sekolah Luar Biasa (SLB) ABCD, Jumat 8 November 2019 pagi. Tak hanya menjadi guru, Tatang juga merupakan pendiri SLB yang berlokasi di Jalan Holis, Gang Faqih, RT 2, RW 9, Kelurahan Babakan, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung itu.

Kisahnya mendirikan SLB ABCD berawal pada 2003. Tatang yang saat itu baru lulus Program Studi Antropologi FISIP Unpad punya keinginan "menyulap" kediaman keluarganya menjadi SLB.

SLB ABCD di Bandung/ENDAH ASIH LESTARI/PR

Dia merasakan, kehidupan sebagai difabel akan semakin berat jika tidak dibarengi ilmu pengetahuan. Batinnya terusik ketika menyadari hampir seluruh anak difabel di daerah tempat tinggalnya tidak bisa mengenyam pendidikan.

"Waktu itu, saya bersama almarhum kakak saya yang juga tunanetra, lalu istrinya, juga sahabat, sepakat mendirikan SLB. Kami merasa sangat prihatin dengan kondisi penyandang disabilitas di sekitar kami yang hampir semuanya tidak bersekolah karena berasal dari keluarga tidak mampu. Kami bisa berempati karena difabel juga," ucap Tatang di SLB ABCD, Jumat 8 November 2019.

Dianggap pengemis

Dengan keterbatasan yang ada, Tatang menggunakan bangunan rumah seluas 7 x 8 meter milik keluarganya di dalam gang untuk menjadi SLB seadanya. Dulunya, lahan dan bangunan itu merupakan kandang ayam.

Target saat itu adalah memberikan pengajaran kepada anak-anak difabel sehingga bisa meningkatkan kualitas hidupnya.

"Kami bergerak sendiri mendatangi orangtua yang punya anak penyandang disabilitas di sekitar wilayah kami dan rupanya tidak mudah. Ketika diberikan nasihat, banyak orangtua yang tidak merespons. Bahkan, saya pernah diusir dan diberi uang Rp 100.000 karena dianggap pengemis. Banyak dari mereka yang berpikir, untuk apa sekolah toh banyak juga orang normal yang pada akhirnya jadi pengangguran," tutur Tatang.

Melalui berbagai ikhtiar, mereka mampu menyadarkan lima orangtua dengan anak difabel. Mereka menjadi siswa angkatan pertama SLB ABCD. Seiring waktu, banyak orangtua yang sadar pentingnya pendidikan untuk anak-anak penyandang disabilitas.

Ikhtiar tak kenal lelah

Semakin hari, jumlah siswa SLB ABCD meningkat. Hal itu membuat Tatang dan keluarganya yang semula menempati bangunan seluas 7 x 10 meter tepat di depan SLB ABCD, memutuskan pindah.

Mereka ingin memperluas bangunan sekolah, sedikit demi sedikit dari rezeki yang terkumpul.

"Kalau saya dan keluarga, sekarang tinggal menumpang kepada keluarga kakak. Tidak apa-apa, yang penting ada tempat belajar untuk anak-anak," ucapnya.

TATANG (50) dan salah seorang guru, sedang mengajar di SLB ABCD di Gang Faqih, Jalan Holis, RT 2 RW 9, Kelurahan Babakan, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, Jumat 8 November 2019. Tatang yang tunanetra mendirikan SLB ABCD di rumahnya pada 2003 dan hingga saat ini masih berstatus guru honorer.*/ENDAH ASIH LESTARI/PR

Di SLB ABCD, Tatang mengajar bersama 12 guru lain. Dari jumlah guru yang ada, hanya 5 orang yang berstatus ASN. Sisanya, termasuk Tatang, masih berstatus honorer.

Rata-rata, satu guru mengajar lima murid. Mengingat keterbatasan, ada juga guru yang mengajar hingga 7 murid.

Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, Tatang juga seringkali memenuhi panggilan sebagai tukang pijat. Hanya, seiring kesibukannya mengajar dan mengelola SLB ABCD, pekerjaan itu tak lagi bisa disanggupinya.

Dari 42 siswa SLB ABCD saat ini, ada yang merupakan tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa, dan tunagrahita. "Siswa terbanyak adalah tunagrahita. Semuanya ada, dari kelas 1 SD sampai SMA," ujar ayah dua anak itu.

SLB ABCD di Bandung/ENDAH ASIH LESTARI/PR

Untuk belajar di SLB ABCD, Tatang tak mematok biaya. Apalagi, sekira 70 persen murid berasal dari keluarga tidak mampu.

"Kebanyakan hanya membayar semampunya. Bahkan, ada juga yang tidak membayar sama sekali, digratiskan saja. Untuk uang bangunan yang hanya Rp 300.000 juga begitu," ujarnya.

Tak heran, Tatang kerap kesulitan memenuhi biaya operasional. Hingga kemudian dia mendirikan yayasan untuk membantu biaya operasional sekolah dan biaya murid sehari-hari.

Sebagian kecil dana berasal dari Bantuan Operasional Sekolah. Sisanya merupakan hasil ikhtiar dan uluran tangan donatur.

"Sampai sekarang belum ada donatur tetap. Tapi, prinsip kami, yang penting anak-anak dengan disabilitas harus disekolahkan, bagaimana pun perjuangannya," ujarnya.

Diminta membangun asrama

Rata-rata ruang belajar di SLB SBCD berukuran 2 x 2 dan 2 x3 meter. Ukuran itu masih jauh dari standar, yaitu minimum 5 x 5 meter. Sebelumnya, ruang belajar tersebut merupakan kamar tidur dan ruang tamu.

Di tengah keterbatasan, Tatang kini dihadapkan pada tantangan baru. Banyak orangtua dengan anak difabel yang datang dan memohon agar Tatang membuka asrama. Dengan begitu, selain belajar di SLB, anak juga bisa menginap.

"Kalau tunanetra kebanyakan berasal dari keluarga tidak mampu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, banyak orangtua yang bekerja dari pagi hingga malam. Sehingga, lingkungan tempat tinggalnya juga tidak kondusif untuk belajar. Saya ingin sekali membantu, urusan biaya nomor 80. Selama saya ingin meringankan beban orang lain, Allah pasti meringankan beban saya," tutur Tatang.

Sejak beberapa waktu lalu, dia mulai membangun fasilitas asrama dengan dana seadanya. Tatang berharap, pembangunan asrama sederhana di atas bangunan SLB ABCD bisa segera rampung dan bisa digunakan.

SLB ABCD di Bandung/ENDAH ASIH LESTARI/PR

"Sekarang diprioritaskan dulu untuk tunanetra, bukannya tidak mau menampung yang lain, tapi tempatnya memang terbatas, mudah-mudahan ada rezekinya sampai selesai," tuturnya.

Tatang berharap agar para murid juga diberikan kemampuan praktis sehingga bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, diberikan pelatihan menjahit, praktik memasak, dan sebagainya.

"Tapi untuk ada praktik menjahit, misalnya, harus ada kainnya, mesin jahitnya, sekarang juga belum ada," katanya.***

Bagikan: