Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Cerah berawan, 30.1 ° C

Kasfiansyah Putra, Pemuda Bandung yang Sediakan Rumah Singgah untuk Pasien dari Keluarga Kurang Mampu

Endah Asih Lestari
KASFIANSYAH Putra/ENDAH ASIH LESTARI/PR
KASFIANSYAH Putra/ENDAH ASIH LESTARI/PR

PAHLAWAN tak melulu harus memegang senjata. Pahlawan juga tak hanya bisa diidentikkan dengan jawara adidaya alias superhero pembasmi kejahatan layaknya karakter fiksi. Sosok pahlawan yang membantu sesama bisa saja ada di tengah-tengah kita, disadari atau tidak.

Dari dalam gang Pak Elas, Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Kasfiansyah Putra (25) menjawab kegelisahan dengan memfungsikan rumah kontrakannya menjadi rumah singgah bagi pasien anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu.

Sejak tiga tahun lalu, dia membuka pintu lebar-lebar bagi pasien anak-anak yang berobat rawat jalan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, tetapi tak punya biaya untuk menginap di tempat layak.

"Saya melihat banyak pasien anak-anak dari pelosok daerah yang terpaksa menginap di lorong rumah sakit hanya beralaskan tikar, karena harus kembali lagi keesokan harinya sedangkan untuk pulang ke rumah, biayanya mahal dan jauh. Itu yang membuat saya berpikir untuk membuka rumah singgah," ucap pria yang biasa dipanggil Afin itu ketika ditemui di Rumah Singgah Al Fatih, Rabu 6 November 2019.

Afin, yang sejak dulu sudah aktif dalam berbagai kegiatan sosial, tak bisa menutup mata. Bersama beberapa temannya, dia ingin membantu lebih banyak.

RUMAH Singgah Al Fatih/INSTAGRAM @RUMAHSINGGAHALFATIH

Dari sekadar tempat beristirahat dan menginap, mereka terus mengupayakan apa yang bisa dilakukan untuk meringankan beban pasien dan keluarga. Misalnya, menyediakan makanan, tabung oksigen, hingga mobil ambulans.

Mereka juga melakukan pendampingan untuk mengantar pasien ke rumah sakit hingga mengantar pasien sampai ke kediamannya di luar Bandung.

Banyak pasien yang tidak mampu meneruskan pengobatan di tengah jalan. Mereka tidak mampu menebus resep obat karena tidak memiliki uang. Sementara obat tersebut tidak ditanggung BPJS.

"Saya inginnya pasien tidak memikirkan apa-apa, tinggal ikhtiar saja masalah kesehatan. Untuk itu, biasanya kami patungan, terkadang ada donatur juga yang membantu," ucap Afin.

Jatuh bangun menggalang dana

Pada awal mendirikan Rumah Singgal Al Fatih, Afin yang berwirausaha berjualan jus dan soto itu menggunakan seluruh tabungannya untuk mengontrak rumah serta membeli peralatan. Banyak juga peralatan yang merupakan sumbangan dari orang lain.

Rumah yang digunakan saat ini akan habis masa kontraknya pada 2020. Setiap dua tahun, biaya yang harus dikeluarkan untuk mengontrak rumah yaitu Rp 20 juta.

Sebelum memiliki yayasan pada 2017, Afin menerapkan gaya rock ‘n roll untuk menggalang dana. Mulai dari kantong pribadi, hingga "mencolek" kepedulian teman-teman terdekat.

"Sering juga kas kosong, padahal kami harus menebus obat pasien. Kalau sudah begitu, kami sampaikan ke keluarga pasien sama seperti saat orangtua bilang kepada anaknya ketika tidak punya uang, tapi ingin dibelikan mainan. Kami bilang, ‘besok dibelikan’. Alhamdulillah selalu ada jalan," tuturnya.

Pada 2017, ada donatur yang membantu proses legalisasi pendirian yayasan. Sejak saat itu, aktivitas menggalang dana jadi lebih terencana. Namun, hal itu tak menjamin ketersediaan dana operasional rumah singgah dan pendampingan terhadap pasien.

Pasien penyakit berat

Sejak 2016 hingga sekarang, sudah ada lebih dari 100 anak yang didampingi Rumah Singgah Al Fatih. Mereka punya beragam penyakit dan rata-rata merupakan penyakit berat seperti kanker, hidrosefalus, kebocoran jantung, dan leukimia.

Dalam sehari, rata-rata ada 12 hingga 15 pasien yang mendapat pendampingan. Mereka datang dan pergi, mengikuti jadwal kontrol masing-masing.

AMBULANS Rumah Singgah Al Fatih/INSTAGRAM @RUMAHSINGGAHALFATIH

Ada 6 kamar yang disediakan sebagai tempat singgah. Namun, jika sedang sangat ramai, keluarga pasien bisa tidur di ruang tamu.

"Jika pasien tiba-tiba drop, langsung kami bawa ke UGD, supaya langsung ditangani orang yang tepat, itulah sebabnya mengapa rumah singgah tidak boleh jauh dari rumah sakit," ujarnya.

Pada Rabu 8 November 2019, ada beberapa pasien anak yang sedang singgah. Salah satunya Aip (5), pasien kebocoran jantung yang berasal dari Tasikmalaya. Ada pula Muslimah (11), pasien Thalasemia yang berasal dari Sumedang, dan Risma (8), pasien kanker mulut dari Cipanas.

"Ada yang standby di rumah singgah yaitu Kang Aris, menjadi sopir ambulans dan Nanang sebagai pengurus operasional. Dua-duanya merupakan keluarga pasien yang mengabdikan diri karena mereka beranggapan bahwa sedekah itu tak melulu soal materi tapi bisa juga dengan tenaga," tutur Afin.

Afin sangat beruntung didukung oleh istri dan keluarganya sehingga bisa terus memberikan kiprah di rumah singgah. "Hidup cuma sekali, maka jadikan berarti," ujarnya.***

Bagikan: