Pikiran Rakyat
USD Jual 14.004,00 Beli 14.102,00 | Berawan, 26.8 ° C

Lulusan Perguruan Tinggi dan SMK Masih Mendominasi Jumlah Pengangguran Terbuka

Satira Yudatama
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

BANDUNG, (PR).- Lulusan perguruan tinggi, dan SMK masih mendominasi jumlah pengangguran terbuka di Kota Bandung. Pengangguran terbuka merupakan angkatan kerja yang tidak, atau belum sama sekali memiliki pekerjaan.

Berdasarkan data terkni Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Bandung, terdapat 96.465 jiwa pengangguran terbuka. Pengangguran terbuka dengan tingkat pendidikan sarjana, dan diploma mencapai 24.330 jiwa, sekitar 25% dari jumlah keseluruhan. Sementara itu, pengangguran lulusan SMK, berjumlah 24.220 jiwa (25%). 

Kepala Disnaker Kota Bandung Arief Syaifudin mengatakan, terdapat sejumlah faktor penyebab lulusan perguruan tinggi sulit beroleh pekerjaaan, di antaranya urusan nilai gaji. "Ada lulusan perguruan tinggi, terutama yang ternama, ingin langsung beroleh gaji relatif tinggi saat mulai bekerja. Ketika tawaran gaji dari penyedia lowongan pekerjaan tak sesuai harapannya, mereka cenderung tak mengambil kesempatan tersebut," kata Arief di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, Kamis, 7 November 2019. 

Faktor ketaksesuaian keahlian utama pelamar dengan lowongan yang tersedia, ucap Arief, juga turut mempengaruhi jumlah pengangguran dari tingkat pendidikan perguruan tinggi beserta SMK. Selain itu, terdapat beberapa faktor lain yang menjadi tantangan para pengangguran terbuka yang berlaku secara umum, di antaranya, daya saing individu bersangkutan, arus urbanisasi, bonus demografi, keterbatasan jumlah lowongan pada sektor formal, informasi perihal pasar kerja beserta pelayanan penempatan tenaga (kerja) di dalam belum optimal. 

Berdasarkan data Disnakertrans Kota Bandung, jumlah pengangguran terbuka (lulusan) SMA juga lumayan tinggi, 20.898 jiwa. Bagian langkah mengurangi jumlah pengangguran terbuka, Disnaker Kota Bandung telah beberapa kali, dan terus mengadakan bursa kerja (job fair). Disnaker Kota Bandung juga terus berupaya menggenjot kualitas lembaga, atau balai latihan kerja.  

Arief mengatakan, jumlah pengangguran terbuka di Kota Bandung menunjukkan penurunan. Jumlah penuruan, melebihi target yang tertera dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2018-2023. Kendati demikian, Arief enggan berpuas diri, meningat jumlah pengangguran dapat berubah-ubah karena berbagai faktor. 

Bagi para pencari kerja , Arief mengimbau, agar terus meningkatkan daya saing. Selain bonus demografi, para pencari kerja di Kota Bandung perlu mempersiapkan diri menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN, Asian Free Trade Area (AFTA), China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA), serta Asia- Pacific Economic Cooperation (APEC). "Pemerintah juga bersiap menghadapi hal itu, menggalakkan peningkatan pelatihan. Kami juga telah menjalin kerja sama dengan pihak luar negeri guna menyalurkan tenaga kerja dari Kota Bandung," ucap Arief. 

Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnakertrans Kota Bandung, Marsana menambahkan, para pencari kerja dapat memanfaatkan aplikasi Bandung Integrated Mainpower Manajemen Application (BIMMA). Dalam aplikasi tersebut, ucap Marsana, terdapat berbagai informasi, termasuk pelatihan,lowongan pekerjaan yang tersedia. Para pencari kerja bisa melamar secara daring (online) dengan lebih dulu memerhatikan ketentuan beserta persyaratan. 

"Penempatan tenaga kerja berlaku untuk pengangguran yang terkena dampak pemutusan hubungan kerja. Aplikasi menyediakan informasi lowongan pekerjaan dengan beban relatif ringan bagi kategori pengangguran tersebut," ucap dia. 

Dalam menyerap jumlah pengangguran perguruan tinggi beserta SMK, Marsana mengatakan, Disnaker Kota Bandung bekerja sama dengan berbagai pihak terkait membentuk bursa kerja khusus BKK. Saat ini, sudah ada banyak BKK yang telah berdiri, berjumlah sekitar 70.***

Bagikan: