Pikiran Rakyat
USD Jual 14.037,00 Beli 14.135,00 | Sedikit awan, 20.4 ° C

17 Dalang Keturunan Abah Sunarya Tampil di Puncak Hari Wayang Nasional 2019

Retno Heriyanto
PUNCAK acara Hari Wayang Nasional, Kamis, 7 November 2019 malam hingga Jumat 8 November 2019 dinihari, berlangsung di Pesantren Budaya Giriharja Padepokan Giriharja, Jalan Raya Laswi, Jelekong, Baleendah, Kabupaten Bandung.*/RETNO HERIYANTO/PR
PUNCAK acara Hari Wayang Nasional, Kamis, 7 November 2019 malam hingga Jumat 8 November 2019 dinihari, berlangsung di Pesantren Budaya Giriharja Padepokan Giriharja, Jalan Raya Laswi, Jelekong, Baleendah, Kabupaten Bandung.*/RETNO HERIYANTO/PR

RAMA Wijaya merasa sedih manakala mengetahui istrinya Dewi Sinta telah diculik oleh Rahwana raja Alengka. Burung Jatayu yang berupaya untuk menghalangi penculikan tidak luput jadi sasaran Rahwana, hingga sayap Jatayu terluka.

Namun berkat bantuan Prabu Sugriwa dan patihnya Anoman, Anila, Anggada, dan seluruh pasukan atas, pasukan Alengka dapat dipatahkan dan Dewi Sinta dapat kembali ke pangkuan Rama Wijaya.

Hal ini menjadi rangkaian perseteruan raja Ayodya Rama Wijaya dengan raja Alengka Rahwana dalam cerita Ramayana bertajuk “Rama Tambak” yang dibawakan 17 dalang wayang golek yang tergabung dalam Rampak Dalang Bani Sunarya, pada puncak acara Hari Wayang Nasional. Acara berlangsung pada Kamis, 7 November 2019 malam hingga Jumat 8 November 2019 dinihari, di Pesantren Budaya Giriharja Padepokan Giriharja, Jalan Raya Laswi, Jelekong, Baleendah, Kabupaten Bandung.

Diungkapkan Ketua Panitia Hari Wayang Nasional 2019, Intan D. Sunarya, rangkaian kegiatan Hari Wayang Nasional 2019 yang diselenggarakan Pesantren Budaya Giriharja Padepokan Giriharja, digelar sejak Senin 4 November 2019. “Giriharja sebagai ikon wayang golek nasional ingin mendorong ke masyarakat Indonesia bahwa daya tarik seni pertunjukan wayang golek tidak kalah menarik dengan wayang kulit,” ujar Intan disela-sela kegiatan Hari Wayang Nasional 2019.

Sebagai wujud kepedulian ingin menjaga dan melestarikan Wayang Golek sebagai warisan seni budaya leluhur Pesantren Budaya Giriharja Padepokan Giriharja sebagai salah satu kiblat wayang nasional, terus berupaya  mengistimewakan wayang golek sebagai warisan budaya nasional.

“Kami tidak ingin anak-anak nanti pareumeun obor karena tidak tahu warisan budayanya sendiri. Anak-anak nanti jangan hanya tahu hari valentine, tapi harus tahu juga hari wayang nasional,” ujar Intan.

Ditegaskannya, Pesantren Budaya Giriharja Padepokan Giriharja juga ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa wayang golek sama hebatnya dengan wayang kulit. Hal ini ditunjukan pada malam puncak rangkaian kegiatan Hari Wayang Nasional dimana keturunan Abah Sunarya mengeluarkan seluruh kemampuannya tampil dalam satu panggung membawakan cerita Rama Tambak.

Selain pegelaran wayang golek dengan menampilkan 17 orang dalang dalam satu panggung, Hari Wayang Nasional 2019 yang diselenggarakan Pesantren Budaya Giriharja Padepokan Giriharja sejak Seni 4 November 2019 berupa karnaval tokoh pewayangan, pameran seni wayang dulu sampai zaman modern, workshop wayang, lomba mewarnai, wayang kontemporer, pertunjukan seni tari, pertunjukan pencak silat, bazar karya lukis Giriharja, bazar khas makanan Sunda dan sebagai puncak acara ada pertunjukan Rampak Dalang Bani Sunarya.

Hari Wayang Nasional diperingati setiap tanggal 7 November sejak Presiden Joko Widodo menandatangani Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 30 Tahun 2018 tentang penetapan Hari Wayang Nasional. Keppres yang ditandatangani Presiden Jokowi pada 17 Desember 2018 ini menetapkan bahwa Hari Wayang Nasional setiap 7 November namun bukan merupakan hari libur.

Pertimbangan penetapan Hari Wayang Nasional ini adalah karena wayang Indonesia telah tumbuh dan berkembang menjadi aset budaya nasional yang memiliki nilai sangat berharga dalam bahwa wayang Indonesia lelah tumbuh dan berkembang menjadi aset budaya nasional yang memiliki nilai sangat berharga dalam pembentukan karakter dan jati diri bangsa Indonesia.

Penetapan Hari Wayang Nasional ini juga dengan pertimbangan pengukuhan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) terhadap wayang Indonesia ke dalam Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia (Representatiue List of tlrc Intangible Cultural Heritage of Humanitgl merupakan pengakuan internasional yang mampu meningkatkan citra positif dan martabat bangsa Indonesia serta menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan terhadap wayang Indonesia;

"Dalam rangka meningkatkan kesadaran dan kecintaan masyarakat terhadap upaya pemajuan wayang Indonesia, Pemerintah menetapkan tanggal 7 November sebagai Hari Wayang Nasional," demikian bunyi pertimbangan Kepres ini.***

Bagikan: