Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Sedikit awan, 24.4 ° C

Viral Banjir di Bandung karena Kasur, Satgas Citarum Harum Ungkap Fakta Soal Sampah Besar

Tim Pikiran Rakyat
PEMBERSIHAN sampah yang menyumbat aliran air di Pagarsih, Kota Bandung. Senin 4 November 2019/DOK. DPU KOTA BANDUNG
PEMBERSIHAN sampah yang menyumbat aliran air di Pagarsih, Kota Bandung. Senin 4 November 2019/DOK. DPU KOTA BANDUNG

BANDUNG, (PR).- Salah satu kawasan di Kota Bandung yang kerap dilanda banjir adalah kawasan Pagarsih dan Pasirkoja. Meski sudah ada tol air di Pagarsih, banjir masih terjadi di dua kawasan yang berdekatan tersebut. Pada Jumat 1 November 2019, banjir melanda dua kawasan itu.

DPU (Dinas Pekerjaan Umum) Kota Bandung berusaha mencari penyebab banjir di kawasan tersebut. Pada Senin 4 November 2019, penyebabnya diketahui.

Kasur bekas menjadi penyebabnya banjir di dua kawasan tersebut. DPU Kota Bandung melaporkan, selain tumpukan sampah plastik yang menghambat aliran air, kasur bekas yang dibuang warga membuat aliran air tersendat.

"Dari mana datangnya banjir di Gang Pasantren, Pasirkoja? Ternyata ini penyebabnya," kata DPU Kota Bandung dalam keterangan foto penemuan kasur bekas di Pasirkoja via akun media soaial.

Dari kasur hingga kulkas

Sementara itu Komandan Sektor 22 Satgas Citarum Harum, Kolonel Inf. Asep Rahman Taufik membenarkan bahwa warga Kota Bandung masih banyak yang membuang sampah dan barang bekas ke sungai. Perabot rumah tangga bekas kerap ditemukan Satgas Citarum Harum di beberapa sungai di Kota Bandung.

"Kami sudah beberapa kali menemukan kasur. Kami menemukan lemari bekas, kursi bekas, sofa, dan lainnya. Banyak sekali ditemukan di anak sungai di Kota Bandung," ujar Asep alam wawancara yang disiarkan Radio PRFM, Senin 4 November 2019.

"Apabila hujan lebat, di beberapa titik terjadi terjadi banjir, disebabkan tumpukan sampah yang setiap hari masih ada karena masyarakat masih banyak yang buang sampah ke sungai," ucap Asep.

WARGA mengolah lahan pertanian miliknya di sisi Sungai Citarum dengan kondisi terpapar limbah dengan warna kehitaman dari sungai Jadun yang merupakan anak sungai Citarum di Kampung Cicukang, Desa Mekarrahayu, Margaasih, Kabupaten Bandung. Rabu (20/2/2019). Upaya pemerintah terkait memulihan Sungai Citarum melalui program Citarum Harum, akan menggelontorkan dana sebesar 605 milyar rupiah yang akan dicairkan di bulan Maret mendatang.*/ADE MAMAD/PR

Selain sampahdi beberapa titik di Kota Bandung, aliran sungai mengalami penyempitan. Pasalnya, banyak rumah warga yang dibangun di bantaran sungai.

"Tapi banjir ini tidak lama, tidak sampai sejam setelah hujan reda, banjir sudah tidak ada," ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi banjir, beberapa waktu lalu, Pemerintah Kota Bandung menggelar program Mapag Hujan. Program itu merupakan program yang digelar untuk membersihkan sungai-sungai yang da di Kota Bandung.

Dalam program Mapag Hujan, Satgas Citarum Harum ikut serta. Masih saja banyak ditemukan di sungai karena masih banyaknya warga yang buang sampah ke sungai.

"Alhamdulillah sampah yang terangkut (saat Mapag Hujan) cukup banyak, tapi kesadaran masyarakat untuk tidak buang sampah (ke sungai) belum tuntas karena masih banyak sampah di sungai," ujar Asep.

Lebih parahnya, Asep bercerita, sampah yang ditemukan di sungai bukan hanya sampah plastik. Selain botol plastik dan plastik makanan ringan, kasur ditemukan mengambang di aliran sungai.

Asep meminta warga tidak membuang sampah lagi ke sungai. Terlebih, kini Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung telah membuat program Jemput Sampah agar warga tidak membuang sampah besar seperti kasur dan lemari es ke sungai.

Asep mengatakan, dia juga telah menindak 140 orang yang tertangkap tangan membuang sampah ke sungai. Atas perbuatannya, mereka diberi sanksi sosial selama 14 hari.***

Bagikan: