Pikiran Rakyat
USD Jual 14.037,00 Beli 14.135,00 | Berawan, 20.8 ° C

Posko Pelaporan Penipuan Akumobil Sudah Data 350 Korban

Tim Pikiran Rakyat
KORBAN penipuan Akumobil mengumpulkan berkas untuk mediasi, di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Selasa 5 November 2019. Hingga kini, sudah 1.100 korban penipuan penjualan mobil murah mengumpulkan berkas untuk dijadikan bahan bukti proses hukum.*/ADE BAYU INDRA/PR
KORBAN penipuan Akumobil mengumpulkan berkas untuk mediasi, di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Selasa 5 November 2019. Hingga kini, sudah 1.100 korban penipuan penjualan mobil murah mengumpulkan berkas untuk dijadikan bahan bukti proses hukum.*/ADE BAYU INDRA/PR

BANDUNG, (PR).- Sebanyak 350 orang sudah mendaftar ‎pada posko pelaporan korban Akumobil di Polrestabes Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung pada Selasa 5 November 2019. Para pelapor ini pun sebelumnya telah melakukan aksi damai di Taman Vanda tak jauh dari Polrestabes Bandung.

"Jadi seperti kita ketahui kita sebelumnya telah menetapkan saudara BJB pada hari Jumat 1 November 2019 lalu. Meski demikian kita masih lakukan penyelidikan terkait hal ini. Terutama aset yang dimiliki oleh tersangka," kata Kasat Reskrim Polrestabes Bandung, Ajun Komisaris Besar Polisi Mochamad Rifa'i di Mapolrestabes Bandung.

Menurut Rifa'i Polrestabes Bandung menyediakan posko khusus pelaporan dari Akumobil. Sementara dari data sementara yang telah diterima Polrestabes Bandung, kerugian dari korban baru mencapai Rp 35 miliar.

‎Mulanya para korban menurut Rifa'i tergiur dari penawaran yang dari Akumobil yang memiliki perusahaan bernama PT Aku Digital Indonesia. "Perusahaan ini seperti diketahui menawarkan mobil semisal Toyota Ayla, Honda Mobilio, Toyota Cayla, Brio dan lainnya," katanya.

Modusnya jadi lanjut dia setelah uang dibayarkan maka mobil akan diberikan pada satu setengah bulan hari kerja. Pada kenyataanya mobil tersebut tidak diberikan oleh Perusahaan tersebut. "Hanya saja memang ada beberapa mobil yang sudah diberikan pada nasabah," katanya.

Tanggal 31 Oktober 2019 lalu pun atas dasar kekecewaan ini‎ para nasabah mendatangi showroom Akumobil yang ada di Jalan Sadakeling, Kota Bandung. "Hanya saja tidak ada solusi sedikit pun meski para nasabah telah mendatangi Kantor Akumobil," katanya.

Sejauh ini lanjut Rifa'i Polrestabes Bandung sudah memerika 10 orang saksi. 10 orang saksi ini selain dari korban juga diperiksa para direksi perusahaan tersebut termasuk admin. "Kami juga masih melakukan pelacakan ke mana dana itu pergi," katanya.

Rifa'i juga mengatakan belum ada satu pun perusahaan yang juga menjadi korban. "Semua membeli secara perseorangan saja. Kami juga terus melakukan penyelidikan kasus ini secara mendalam dengan melibatkan PPATK," katanya.

Akumobil banting harga di mal besar

‎Sementara itu sejumlah korban penipuan mobil murah Akumobil mengungkapkan iming-iming yang dilakukan Akumobil dalam penjualan mobil murah. Bahkan melalui rayuan oleh para salesnya tersebut maka banyak korban yang tertarik.

Penjualan mobil murah Akumobil ini dilakukan dengan cara flash sale di setiap mal-mal besar baik di Bandung maupun di Cirebon. Apalagi tampilan pameran mobil yang menarik ditambah penawaran harga murah membuat masyarakat berminat.

"Waktu itu salesnya bilang kalau ini produk marketplace karena namanya (Akumobil) ada kemiriman dengan produk terkenal yang sudah lama, jadi percaya saja," ucap salah satu korban Hendrik Heru (43) di Taman Vanda, Kota Bandung, Selasa 5 November 2019.

HENDRIK Heru (43) sebagai Humas korban Akumobil menggunakan kemeja putih saat berbicara pada para korban Akumobil di Taman Vanda, Jalan Merdeka, Kota Bandung pada Selasa 5 November 2019.*

Kepercayaan Hendrik terhadap flash sale itu bertambah saat mengetahui agenda flash sale digelar dengan durasi waktu yang lama. Selain itu flash sale ini pun berpindah dari satu mal ke mal yang lain. Terlebih, para calon konsumen untuk mendapatkan mobil perlu ikut undian terlebih dahulu. 

"Karena kalau pakai undian, kita pikir tidak semua orang bisa mendapatkan itu. Itu awalnya dan kemudian kita diberi waktu hanya setengah jam bagi yang memenangkan mentransfer uang ke PT. Jadi kita merasa benar dan diberi surat keterangan. Rasanya sulit sekali mengatakan itu tidak benar," tuturnya.

Proses di tempat dijalani dengan membayar uang mobil senilai Rp 50 juta. Setelah itu para konsumen diminta menunggu kedatangan mobil 1-2 bulan. "Tapi dalam perjalanan semakin berkembang ada kekecewaan karena even dilakukan terus menerus. Tetapi apa yang sudah terjadi kita nggak bisa bilang penipuan karena ada realisasi waktu itu, ada yang mendapatkan unit, lalu kemudian agak tersendat," kata dia. 

Hingga akhirnya sampai saat ini mobil tak kunjung diterima. Apalagi uang yang sudah dibayarkan belum jelas nasibnya. Hendrik mengatakan pihak Akumobil sempat berjanji akan mengembalikan dana pada 31 Oktober 2019 namun tak kunjung terlaksana. 

Oleh karenanya Hendrik menuturkan kepastian soal dana ini dibutuhkan untuk melangkah pada proses hukum selanjutnya. Menurut dia, apabila BJ mau mengembalikan, para korban tidak akan melakukan langkah hukum. 

"Kalau dia masih punya itikad baik, kita menahan anggota untuk tidak melangkah hukum. Kami tetap beritikad baik. Kalau memang ada kesanggupan dari perusahaan, kita akan mencoba ke anggota yang laporan mencabut. Tentu kebijakan penyidik memutuskan," kata dia.

Segala upaya akan terus dilakukan oleh para korban. Tujuannya hanya ingin uang yang sudah dibayarkan untuk pembelian mobil murah dikembalikan. "Kami harapkan uang kembali. Sekecil apapun peluang itu kita usahakan," tuturnya.

OJK: Masyarakat harus kritis

Menyangkut penawaran investasi dan perdagangan harus mengingat konsep dua L, yakni legal dan logis. Dengan demikian, masyarakat diminta untuk tidak mudah tergiur pada penawaran diluar batas kewajaran.

Kepala Kantor Regional 2 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat Triana Gunawan mengatakan dalam menghadapi penawaran investasi ataupun perdagangan masyarakat sebaiknya kritis mempertanyakan legalitas dari perusahaan bersangkutan. Selain itu, masyarakat bisa memanfaatkan fasilitas 157 atau desk pengaduan yang disediakan OJK untuk mengajukan pertanyaan.

Selain memerhatikan sisi legalitas, Triana menekankan, yang tak kalah pentingnya dalam menghadapi penawaran investasi ataupun praktik perdagangan adalah kelogisan penawaran. Pasalnya, hampir seluruh praktek penipuan berkedok investasi mengiming-imingi calon korban dengan keuntungan yang diluar batas kewajaran atau di luar kondisi pasar.

“Coba teliti lebih lanjut bagaimana skemanya, bagaimana dia mencari keuntungan sehingga dapat membagikan keuntungan tersebut kepada konsumen. Ini harus diperhatikan dengan seksama,” ujarnya saat konferensi pers, di Bandung, Senin.

Disinggung mengenai kasus Akumobil ini,  Triana menegaskan tugas pokok OJK adalah mengawasi industri jasa keuangan. Sementara, platform tersebut kegiatan utamanya adalah melakukan perdagangan flash sale kendaraan dan bukan lembaga jasa keuangan. Dengan demikian, tidak masuk dalam ranah pengawasan OJK. 

“Hanya sebagai bentuk kepedulian, serta juga adanya fungsi edukasi dan perlindungan, dari banyaknya pertanyaan yang diajukan masyarakat kami menyampaikan laporan pada Juli ke Satgas Waspada Investasi mengenai Akumobil karena melihat yang harus diperhatikan. Karena khawatir ada hal-hal yang salah dalam hal ini,” ujarnya.

Dari hasil laporan tersebut, SWI Agustus menyatakan bahwa Akumobil tidak terdaftar dan merupakan perusahaan illegal karena tidak terdaftar di Kemendag, sesuai dengan skema penjualan yang dilakukan. Sehingga kegiatan jual beli online dari perusahaan tersebut dihentikan.

Hanya pada akhir September, Triana, mengatakan perusahaan bersangkutan mengeluarkan statement bahwa pihaknya telah resmi dikeluarkan dari daftar perusahaan illegal. Sementara, SWI sendiri baru mengeluarkan pernyataan bahwa Akumobil mengantongi ijin pada 7 Oktober 2019. Akan tetapi ijin yang dimaksud adalah dari kementrian perdagangan melalui perijinan Online Single Submission (OSS). 

“Akumobil karena bukan lembaga keuangan maka tidak pernah terdaftar di OJK dan tidak pernah diawasi oleh OJK,” katanya.***

Bagikan: