Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Sebagian cerah, 27.4 ° C

Tim Interdiksi Amankan 12 Kilogram Sabu dari Kakak Beradik

Mochammad Iqbal Maulud
KAPOLDA Jabar Inspektur Jenderal Polisi Rudy Sufahriadi bersama dua tersangka kakak beradik MT (23) dan IA (40) yang berusaha menyelundupkan sabu seberat 12 kilogram di Bandara Husein Satstranegara, ketika ditemui di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Rabu, 23 Oktober 2019.*/MOCHAMAD IQBAL MAULUD/PR
KAPOLDA Jabar Inspektur Jenderal Polisi Rudy Sufahriadi bersama dua tersangka kakak beradik MT (23) dan IA (40) yang berusaha menyelundupkan sabu seberat 12 kilogram di Bandara Husein Satstranegara, ketika ditemui di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Rabu, 23 Oktober 2019.*/MOCHAMAD IQBAL MAULUD/PR

BANDUNG, (PR).- Tim Interdiksi yang terdiri dari Polrestabes Bandung, Lanud Husein Sastranegara, Direktorat Jenderal Bea Cukai Jawa Barat, dan Imigrasi Kelas A Bandung, menggagalkan penyelundupan narkotika jaringan Internasional.

Barang bukti yang diamankan yaitu 12,185 Kg sabu-sabu grade A. Turut diamankan dua orang pelaku berinisial MT (23) dan IA (40) yang merupakan kakak beradik. 

Berdasarkan keterangan dari pihak kepolisan, MT diketahui merupakan seorang sekuriti di sebuah perusahaan di Jakarta. Sementara tersangka laiannya yaitu IA adalah seorang ibu rumah tangga. Keduanya merupakan warga Kota Depok.

Kapolda Jabar Inspektur Jenderal Polisi Rudy Sufahriady‎ membenarkan hal tersebut. Menurut Rudy, pengungkapan ini bermula dari adanya temuan narkotika di Bandara Husein Sastranegara pada 12 Oktober 2019 lalu.

"Petugas bandara juga menangkap seorang pelaku berinisial MT," katanya di Aula Riung Mungpulung, Mapolda Jabar di Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Rabu 23 Oktober 2019.

Mengamankan pelaku di Jakarta

Menurut Rudy, MT pun menjalani pemeriksaan di Satres Narkoba Polrestabes Bandung. Dari situlah, kasus ini dikembangkan.‎ Ternyata ada pelaku lainnya yang ikut andil dalam peredaran narkotika jaringan Internasional tersebut.

"Di Jakarta, kita amankan satu pelaku lainnya, yang berinisial IA," ujarnya, didampingi oleh Kapolrestabes Bandung Komisaris Besar Polisi Irman Sugema dan Kasat Resnarkoba Ajun Komisaris Besar Polisi Irfan Nurmansyah.

IA diamankan di sebuah hotel yang ada di Jakarta, sehari sesudahnya yaitu pada 13 Oktober 2019. Lokasinya di sebuah hotel di Jalan Jaksa No 27, Jakarta.

Dari warga Nigeria

Diketahui, lanjut Rudy, sabu belasan kilo‎ tersebut didapatkan oleh pelaku yang merupakan warga Nigeria bernama Stanley. Sementara, Stanley hingga kini masih masuk Daftar Pencarian Orang (DPO). Diketahui bisnis yang dilakuka Stanley ini sudah dilaksanakan bertahun-tahun.

"Keduanya ini disuruh oleh Stanley membawa kopernya ke Filipina. Sabu yang dibawa oleh MT ini diselipkan di baju bermerk yang dibawa MT. Kemudian Stanley ini rencananya akan mengupahi MT senilai 1.000 Dolar AS atau setara dengan Rp 14 juta lebih.

"Polisi sempat mencari keberadaan S dengan mengirimi pesan agar Stanley membawa sabu belasan kilogram itu ke tempat tinggal MT di Kota Depok.  Kejadian tersbeut terjadi pada 20 Oktober lalu, hanya saja Stanley masih DPO," katanya.

Dalam pengungkapan ini, polisi menerapkan kepada kedua tersangka dengan Pasal 113 ayat 2 juncto Pasal 132 ayat 1 dan atau Pasal 114 ayat 2 juncto Pasal 132 ayat 1 dan atau Pasal 112 ayat 2 Undang-undang Narkotika. "Ancaman hukumannya adalah maksimal pidana mati, paling rendah 20 tahun penjara dan 5 tahun," kata Rudy.

Berawal dari pemeriksaan sinar X

Kepala Kantor Wilayah Jawa Barat Direktorat Jenderal Bea Cukai, Dwiyono Widodo, menambahkan penangkapan MT ini bermula dari pemeriksaan sinar X yang dilakukan di Bandara Husein Sastranegara pada koper-koper yang masuk ke bagasi.

Pada mulanya, MT menggunakan penerbangan rute Kuala Lumpur-Bandung menggunakan maskapai Malindo. Saat pemeriksaan, di bagasi ada yang janggal dari barang bawaan MT ini.

"Setelah diperiksa, ternyata adalah narkoba jenis metaphetamine atau sabu-sabu," katanya, seraya menambahkan penggagalan penyelundupan ‎ini merupakan terbesar sejak 2017 lalu.

Oleh karena itu, Dwiyono mengimbau, jangan mencoba-coba mengedarkan narkotika ke Indonesia. Terutama wilayah Jawa Barat.

"Ini bisa merusak generasi muda, dengan sabu seberat itu kita sudah selamatkan 60.295 jiwa, dari narkoba," katanya.***

Bagikan: